Tuesday, May 1, 2012

Keperkasaan Manchester City


(Courtesy of: Goal.com)

City kembali membuktikan bahwa skuad mereka lah yang layak menguasai kota Manchester pada musim ini. Hal itu dikukuhkan setelah berhasil mengalahkan Manchester United 1-0 di Emirates Stadium. Kemenangan City tersebut diraih berkat gol semata wayang sang kapten, Vincent Kompany, menjelang jeda turun minum.
Secara keseluruhan, skuad Roberto Mancini menguasai jalannya pertandingan. Dari awal pertandingan kubu tuan rumah sudah langsung menggedor pertahanan MU. Tercatat beberapa peluang apik diciptakan oleh tim milik Sheikh Mansour ini. Diawali pada menit ke-16, saat Carlos Tevez memberi umpan kepada Sergio Aguero, tapi berhasil dihalau oleh bek MU, Phil Jones. Beberapa saat kemudian Aguero kembali berupaya untuk membobol gawang lawan dengan sepakan volinya. Sayang bola melayang di atas mistar gawang. Pada menit ke-36 bek sayap City, Pablo Zabaleta, melakukan shot jarak dekat ke arah gawang MU, namun berhasil dengan sigap bola diamankan oleh De Gea. Barulah pada akhir-akhir babak pertama, Vincent Kompany berhasil membobol gawang MU melalui bola sundulan, berawal dari umpan tendangan sudut yang dilesakkan oleh David Silva.
Pada babak kedua pun City tetap menerapkan strategi menekan tim tamu. Otomatis MU nyaris tak berkutik di sepanjang laga ini. Tercatat beberapa peluang diciptakan oleh Samir Nasri pada menit ke-58, Yaya Toure pada menit ke-72, serta beberapa sepakan oleh Sergio Aguero dan Gael Clichy. Jika saja beberapa shot tidak melenceng dan De Gea tidak bermain gemilang, bisa saja gawang MU kebobolan cukup banyak seperti pada pertemuan pertama di Old Trafford.
----------------------------------------------------------------------------
                Hasil ini tentu saja mengubah posisi klasemen sementara di pekan ke-36. Manchester City kembali menguasai posisi puncak, setelah berminggu-minggu tempat ini direnggut oleh MU. Meski jumlah poin mereka sama dengan MU, tetapi mereka unggul selisih gol dari si tetangga. Dan dengan sisa dua pertandingan lagi di musim ini, peluang City untuk menjadi kampiun terbuka amat lebar. Seperti yang dikatakan oleh Sir Alex Ferguson sebelum pertandingan bahwa Derby Manchester ini akan sangat menentukan hasil akhir perburuan gelar juara di antara kedua klub.
                Terlepas dari semua itu, perjuangan dan mental juara skuad besutan Roberto Mancini patut diacungi jempol. Sempat memimpin dengan selisih hingga 5 poin dari rival sekotanya, City justru balik tertinggal 8 poin di paruh kedua musim ini. Namun, secara perlahan ketertinggalan tersebut tereduksi hingga bersisa tiga poin saja – dan akhirnya kini sama dengan raihan poin MU: 83 poin.
                Catatan kemenangan City di Premier League musim ini sama dengan MU, yakni 26 kali. Begitu pula dengan hasil seri dan kalah kedua klub, masing-masing 5 kali bermain seri dan 5 kali mengalami kekalahan. Namun, hasil yang lebih impressive dibuktikan oleh kubu City dengan meraih catatan tak terkalahkan selama bermain di kandang. Jadi, seluruh kekalahan yang diderita kubu The Citizens selama musim ini terjadi kala bertandang ke markas lawan. Maka, wajarlah bila MU kesulitan untuk mengalahkan City di Emirates Stadium pada dini hari tadi.
                Dari catatan impressive dan perjuangan yang begitu keras dan dramatis selama hampir semusim ini, pantaslah jika kemudian Manchester City kembali merengkuh tropi Liga Inggris – setelah 36 tahun. (Terakhir City juara pada musim 1975/76.) Terlebih lagi, City berhasil mengalahkan rival utamanya dua kali dalam perburuan gelar juara. Bahkan pada pertemuan pertama mereka sukses memukul MU dengan skor 6-1 – yang oleh Sir Alex disebut sebagai kekalahan terburuknya selama melatih MU. Di samping itu, Sir Alex pun mengakui bahwa kekalahan di derby kali ini akan mengakhiri kans MU untuk juara, meskipun Manchester City harus bertanding melawan Newcastle United pada pekan berikutnya.

Salam olahraga,
‘Ammar Lelo Andiko, fan sepakbola

Thursday, April 26, 2012

Final El Classico yang Gagal, dan Biang Keladinya


(Courtesy of: rizqiebook.blogspot.com)
Real Madrid baru saja mengalami kekalahan dari klub Jerman, Bayern Muenchen, pada lanjutan semifinal Liga Champions Eropa. Sebuah kekalahan yang menyakitkan (tepatnya begitu), karena diderita dari kekalahan adu pinalti. El Real dipaksa melakoni adu pinalti setelah gagal mengubah skor 2-1 yang bertahan hingga  90 menit pertama + tambahan waktu 2 kali 15 menit. Skor tersebut membuat agregat sama dan kedudukan seimbang antara kedua tim, karena pada pertandingan leg pertama Muenchen juga unggul dengan skor sama di Allianz Arena.
Dua penendang awal El Real, yakni Cristiano Ronaldo dan Kaka’, gagal menceploskan bola ke gawang Manuel Neuer. Kiper timnas Jerman ini memang sigap mengantisipasi tendangan kedua mantan pemain terbaik dunia tersebut. Sementara dua penendang pertama dari kubu Muenchen, David Alaba (pemain muda berusia 19 tahun) dan striker Mario Gomez, sukses melaksanakan tugasnya mencetak gol dengan menipu Iker Casillas.
Sesungguhnya, El Real kembali memiliki asa untuk menang, setelah penendang ketiga (Xabi Alonso) berhasil membobol gawang Neuer; serta Iker Casillas berhasil membaca arah dan mem-blok tendangan dua pemain Muenchen berikutnya, yang masing-masing dieksekusi oleh Toni Kroos dan (Kapten) Philip Lahm. Namun, asa itu sirna tatkala penendang keempat Madrid, Sergio Ramos, melambungkan bola di atas mistar gawang. Akhirnya, dengan keunggulan 3-1 Muenchen pun berhak untuk lolos ke final di Allianz Arena – yang merupakan markasnya sendiri – pada 19 Mei nanti.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebelumnya, Barcelona – sebagai rival abadi Real Madrid – juga berhasil dibekuk oleh Chelsea di Camp Nou dengan agregat 2-3. Dengan dua hasil tersebut maka buyar lah prediksi sebagian besar pengamat dan harapan sebagian besar fans sepakbola untuk menyaksikan final El Classico di Liga Champions musim ini. Hal ini sekaligus menjawab harapan dan prediksi sebagian fans dan beberapa orang skeptis di forum-forum maya mengenai final ideal antara Bayern dan Chelsea.
Cukup menarik untuk diungkap: apa kiranya yang menjadi penyebab dari kegagalan terciptanya final El Classico, karena ini sekali lagi – seolah-olah – mengulang cerita pada musim 2003/2004. Saat itu, yang menjadi favorit adalah tim-tim besar seperti Real Madrid dan Manchester United. Namun, AS Monaco dan FC Porto lah yang melenggang ke final, dimana akhirnya pertandingan itu dimenangkan oleh Porto dengan skor 3-0.
Ada dua hal yang kiranya bisa dijadikan alasan mengapa final "ideal" tidak terjadi di kompetisi semacam Liga Champions. Yang pertama adalah alasan logis, sedangkan yang satunya lagi adalah alasan non-logis.
Kita mulai dari alasan non-logis terlebih dahulu. Banyak pihak yang beranggapan bahwa kekalahan Barcelona atas Chelsea disebabkan oleh faktor luck atau keberuntungan. Dengan begitu banyaknya peluang mencetak gol yang dimentahkan oleh mistar gawang kiper Chelsea, Petr Cech, orang-orang beranggapan bahwa Barca sedang sial. (Saya jadi teringat pada kepercayaan beberapa fans sepakbola: jika bola terlalu sering membentur mistar gawang, maka itu pertanda akan kalah.) Tercatat ada dua tendangan Lionel Messi yang membentur mistar gawang. Pertama adalah saat eksekusi pinalti akibat pelanggarang terhadap Cesc Fabregas, dan kedua adalah saat melepaskan tembakan kaki kiri yang membentur tiang sebelah kiri Petr Cech. Seperti kata komentator pada pertandingan tersebut, “Again, Chelsea (are) being saved by the frame. (Sekali lagi Chelsea terselamatkan oleh mistar).” Mengutip sebuah laman di Goal.com, Francesc Fabregas juga berujar, “Kami bermain lebih baik daripada mereka. Namun, kadang sepakbola itu tidak adil.”
Melihat kekalahan Real Madrid dari Bayern Muenchen, kita juga akan menangkap beberapa aura ketidakberuntungan pada kubu El Real, terutama pada saat terjadinya adu pinalti. Mega bintang seperti Ronaldo dan Kaka’ begitu gampangnya kehilangan peluang untuk mencetak gol dari titik putih. Bagi Ronaldo kegagalan itu menandai akhir dari kesuksesannya menceploskan 25 gol dari titik putih selama musim ini untuk El Real.
Namun, yang lebih menarik adalah bila kita melihat dari sisi entrenador Jose Mourinho. Mourinho punya catatan unik di Liga Champions untuk urusan adu pinalti. Rupanya, The Special One juga pernah gagal sebelumnya kala masih membesut Chelsea. The Blues saat itu ditekuk The Reds di stadion Anfield pada second leg semifinal Liga Champions musim 2006/2007 lewat drama adu pinalti yang berkesudahan 4-1. Jadi, seolah-olah ini adalah kutukan yang berulang bagi sang pelatih. Lagi-lagi aura ketidakberuntungan hinggap di sini.
Akan tetapi, bila kita mengkaji penyebab gagalnya final El Classsico dari sisi logis, maka saya lebih cenderung menuduh faktor ekspektasi (harapan) lah yang menjadi biang keladinya. Mengapa begitu? Kita sama-sama tahu bahwa Barcelona dan Real Madrid – bisa dibilang – adalah dua klub terbaik di dunia saat ini. Pemain-pemain bintang di kedua kubu, seperti Messi; Ronaldo; Xavi; Benzema; Iniesta; Kaka; Fabregas; dan lainnya; selalu mendapatkan ekspektasi atau harapan besar setiap kali bertanding – baik dari kubu fans; pengurus klub; bahkan pengamat sekalipun. Hal itu sedikit banyak memberi beban ekstra di pundak mereka, dibandingkan pemain-pemain dari klub lain yang dianggap underdog. Dari kacamata Messi dan Ronaldo saya melihat bahwa kegagalan mencetak gol apalagi memenangkan pertandingan, merupakan aib yang harus ditanggung dengan cemoohan dan caci maki. Terlebih dengan status mereka sebagai dua pemain terbaik dunia, yang acap kali dibanding-bandingkan dengan legenda macam Pele dan Maradona.
Efek tekanan tersebut terlihat pada saat Barcelona berhadapan dengan Chelsea beberapa hari yang lalu. Lionel Messi terlihat sedikit gugup saat mengambil tendangan pinalti yang dihadiahkan wasit – yang kemudian berujung pada kegagalan. Di akhir pertandingan Messi juga terlihat tertekan (dengan merukuk sambil menutupi kepala dengan kausnya) setelah harus menerima kenyataan bahwa timnya gagal mempertahankan gelar juara.
Melihat eksekusi pinalti yang gagal oleh Ronaldo dan Kaka’ saat berhadapan dengan Muenchen, kita juga bisa merasakan tekanan yang sama ada pada mereka. Ronaldo yang sebelumnya selalu sukses sebanyak 25 kali beruntun menyarangkan bola ke gawang lawan lewat titik putih, kini harus gagal melakukan salah satu "spesialisasi"-nya di sebuah partai dimana seharusnya ia tidak gagal. Sergio Ramos yang sejak awal eksekusi sudah gugup, juga mengekspresikan ketidaksanggupan untuk menanggung beban harapan menang Los Galacticos Jilid Kedua – sehingga berakhir dengan sepakan melambung tinggi di atas mistar gawang.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ekspektasi bisa menaikkan semangat, tetapi di saat yang berbeda juga bisa memberikan beban yang berlebih. Keberuntungan bisa membuat yang diremehkan keluar sebagai juara. Namun, di luar semua itu sepakbola tetap indah untuk disaksikan – siapapun pemenangnya. J

Salam olahraga,
‘Ammar Lelo Andiko, fan sepakbola

Wednesday, April 25, 2012

Jose Mourinho Pelatih Terhebat di Dunia?


(Courtesy of: lif1.com)
Selama semusim terakhir banyak di antara kita yang mungkin memperdebatkan masalah tentang siapakah pelatih sepakbola terbaik di dunia. Apakah Josep Guardiola atau Jose Mourinho? Melihat prestasi mentereng keduanya, sudah pantaslah jika orang-orang menobatkan kedua nama tersebut sebagai yang terhebat sejagad.

Guardiola sukses membesut Azulgrana (julukan FC Barcelona) menjadi sebuah klub tersukses di Eropa dalam – setidaknya – tiga musim terakhir. Anda mungkin masih mengingat betapa perkasanya Lionel Messi dan kawan-kawan pada musim 2008/2009. Enam gelar juara sekaligus berhasil dihimpun dalam satu musim, termasuk tropi La Liga Spanyol; tropi Copa del Rey; dan tropi Liga Champions Benua Biru. Sebuah prestasi fenomenal yang baru pertama kali diukir oleh sebuah klub sepakbola di dunia. Walaupun prestasi itu tidak terulang pada musim 2010/11, Tim Catalan sukses kembali merajai negeri matador, serta menaklukkan tanah Eropa untuk merengkuh tropi Liga Champions yang keempat sepanjang sejarah FC Barcelona. Otomatis pada era Pep Guardiola, Barcelona berhasil merengkuh dua kali tropi kompetisi paling bergengsi antarklub tersebut – yang mana hanya bisa dimenangkan masing-masing sekali oleh Johan Cruyff dan Frank Rijkaard.

Jose Mourinho menandai awal dari kesuksesannya membesut sebuah klub besar, dengan mengantarkan FC Porto menjuarai Liga Portugal; dan – secara mengejutkan – membawa klub itu menjuarai Liga Champions pada musim 2003/2004. Setelah kemudian pindah ke Chelsea, klub London itu disulap Mourinho menjadi  salah satu anggota The Big Four selama kurang lebih empat musim – sebelum akhirnya didepak oleh Si Taipan Minyak Roman Abramovich. Hampir semua tropi berhasil ia kumpulkan di lemari pajang Stamford Brigde, kecuali tropi Liga Champions. Dan, banyak yang yakin bila ia diberi kesempatan semusim lagi oleh Si Pemilik Abramovich, maka gelar itu pun tentu akan didapatkannya.

Perjalanan Mourinho selanjutnya diteruskan di klub Italia, Inter Milan, setelah sebelumnya ia sempat menganggur selama beberapa waktu pasca pemecatan. Dua musim di Italia, Inter berhasil dibawanya meraih Scudetti sebanyak dua kali, serta – yang paling fenomenal – meraih treble winner pada musim 2009/2010. Padahal sejak tahun 1965 Inter tak pernah berhasil lagi merebut tropi sakral tersebut. Terhitung 45 tahun lamanya. Waw! Sebuah jarak yang sangat panjang. Otomatis, The Special One pun menjadi pujaan publik Giuseppe Meazza semenjak saat itu.

Kini Mourinho menukangi klub megabintang Real Madrid. Tercatat, ini adalah musim keduanya bersama Los Galacticos. Dan, hingga saat ini Mourinho sudah berhasil – untuk sementara – membawa El Real pada posisi puncak klasemen La Liga hingga jornada ke-34, serta – untuk sementara pula – membawa klub sembilan kali juara Champions Eropa tersebut ke babak semifinal Liga Champions 2011/12 melawan klub Bavaria, Bayern Muenchen. Dan, klub besutannya masih berpeluang besar untuk lolos ke final, menyusul Chelsea yang telah terlebih dahulu ke final – setelah secara luar biasa berhasil menumbangkan Barcelona.
------------------------------------
Mengulas pertandingan yang baru saja berakhir antara FC Barcelona dan Chelsea yang berlangsung di Camp Nou, orang-orang tentu akan berpikir, “Ada apa dengan Barca?” atau, “Apakah ini akhir dari era Barcelona?” atau pula, “Apakah Pep Guardiola masih merupakan pelatih terbaik di dunia?”
Saya lebih tertarik pada pertanyaan terakhir, karena terkait dengan topik dan pembahasan kita di awal tadi.
Jika Anda menyaksikan pertandingan barusan; yang berakhir imbang 2-2 dimana Chelsea lolos berkat unggul agregat 3-2, niscaya Anda akan menyadari bahwa strategi yang digunakan oleh Roberto Di Matteo (pelatih/caretaker Chelsea) serupa dengan strategi yang digunakan oleh Jose Mourinho beberapa hari yang lalu – saat melakoni laga El Classico. Pada laga tersebut Madrid menang 2-1 dengan memanfaatkan strategi pertahanan rapat dan amat disiplin ala catenaccio Italia, plus serangan balik yang sangat cepat dan efektif. Tidak percaya? Lihat di Youtube video gol kedua yang dicetak oleh Cristiano Ronaldo dengan diawali oleh umpan kelas dunia dari Mesut Ozil! Uniknya, dua gol balasan Chelsea (masing-masing oleh Ramires dan Fernando Torres) berawal dari aksi serangan balik yang serupa.

Jika kita cermati, strategi yang dipakai Di Matteo sangat mirip dengan strategi yang dipakai oleh Mourinho saat El Classico. Dan, jika Anda mengikuti perkembangan berita sebelum laga di Camp Nou tadi, ada indikasi bahwa Mourinho turut berperan dalam meracik strategi guna melumpuhkan Barcelona. Menurut Goal.com, Petr Cech (kiper Chelsea) berkelakar bahwa Mourinho mengadakan semacam rapat rahasia dengan para pemain Chelsea sebelum pertandingan, guna membahas taktik dan strategi membendung Barcelona. Terus terang saja, bagi saya itu bukan sekedar kelakar. Bahkan kabarnya, Mourinho ikut membagi tips kepada asisten pelatih Chelsea tentang bagaimana mengalahkan Barca – seperti yang baru saja ia lakukan pada El Classico. Menurut Goal.com juga, The Special One mengirimkan SMS motivasi kepada pemain-pemain Chelsea seperti John Terry, Frank Lampard, Ashley Cole, dan Didier Drogba. Dan, seperti yang telah kita saksikan, Barcelona berhasil dilumpuhkan di kandang sendiri dengan strategi ala Mourinho tersebut, meskipun telah unggul pemain sejak babak pertama akibat kapten John Terry dikartu merah oleh wasit asal Turki.

Mengulas contoh lain tapi masih dalam contoh serupa, saat pertandingan perempat final antara FC Barcelona dan AC Milan, klub Italia tersebut juga berhasil mengatasi permainan taka tiki ala Messi dkk., baik di San Siro maupun di Camp Nou – walau akhirnya Milan tersingkir juga berkat dua pinalti kontroversial hadiah dari wasit yang diberikan kepada Lionel Messi. Dan, uniknya strategi yang digunakan Milan pun persis dengan strategi yang dibuat oleh Mourinho, dimana sektor pertahanan dibuat begitu disiplin, tanpa memberikan sedikit pun celah bagi para maestro Barca seperti Messi; Xavi; Iniesta; dan Fabregas untuk beraksi di daerah kotak pinalti – sehingga nyaris menyisakan seorang penyerang saja di depan. Saat ada kesempatan memegang kendali, bola langsung diumpan ke depan dengan cepat kepada striker yang seorang itu untuk melancarkan serangan balik yang sangat mematikan. Sangat terlihat bahwa pelatih Milan, Massimiliano Allegri mengadopsi taktik tersebut – yang digunakan Mourinho saat sukses membesut Inter menghadapi Barca.

Saat kita ulas lebih jauh ke belakang; di musim 2009/2010; dimana Inter berhasil merebut treble untuk pertama kalinya bagi klub-klub Italia, kita akan mendapati bahwa saat berhasil menumbangkan Barcelona di Giuseppe Meazza dengan skor 3-1; Mourinho untuk pertama kalinya menandai sebuah trade mark kesuksesan strategi dalam menghadapi sebuah klub superior seperti Barcelona – dimana nyaris seluruh skuad Spanyol yang juara Piala Eropa 2008 dan juara Piala Dunia 2010 berasal dari klub itu. Di sinilah awal kembalinya strategi ala Catenaccio yang puluhan tahun lalu sempat sukses serta menjadi trade mark Italia dan klub-klub sepakbolanya: Catenaccio ala Jose Mourinho. Pun, saat leg kedua di Camp Nou – meskipun kalah 1-0 akibat kartu merah kontroversial yang diberikan kepada Thiago Motta, Inter tetap berhasil mengatasi perlawanan Barca secara keseluruhan; dan melenggang ke final.

Rekam jejak tadi setelah diulas, terutama dari sisi strategi, terasa sangat berbeda. Kita dapati bahwa Jose Mourinho – dengan tiga klub berbeda yang dibesutnya – menjadi sebuah tokoh pembangun pondasi bermain bagi anak-anak asuhnya. Hal itu sangat terasa dan terbukti setelah Mourinho meninggalkan Porto, Chelsea, dan Inter. Setelah The Special One pergi, pondasi permainan yang berubah (dengan pelatih yang baru) membuat klub-klub itu kesulitan untuk kembali kepada peak performance-nya. Lihat saja Inter sekarang!
Chelsea pun demikian adanya sebelum Roberto Di Matteo masuk menjadi careteker (pelatih sementara) pasca dipecatnya Andre Villas Boas – setelah kekalahan memalukan 3-1 di kandang Napoli pada perempat final Liga Champions musim ini. Di Matteo lah yang kemudian mengubah segalanya secara ajaib dengan mengalahkan Napoli 4-1 di Stamford Bridge, yang mengantarkan Chelsea ke semifinal, dan kini berhasil menyingkirkan Barcelona untuk melaju ke babak final. Di Premier League pun Chelsea berhasil “menemukan” form dan permainan terbaiknya. Semua itu berkat kemampuan Di Matteo untuk mengembalikan Chelsea kepada bentuknya yang terdahulu: bentuk di era Mourinho. Dan, itu pun diakui oleh Di Matto sendiri bahwa ia banyak belajar dari mentornya tersebut untuk membentuk kesolidan tim di lapangan dan di kamar ganti. Di samping itu, banyak pihak yang setuju bahwa Chelsea yang sekarang telah kembali seperti Chelsea yang perkasa: seperti pada era The Special One.

Pep Guardiola, meskipun menjadi pelatih tersukses sepanjang sejarah klub Catalan, belum mampu menorehkan hal yang serupa seperti yang ditinggalkan oleh Mourinho di tiga klub besar yang ia tinggalkan. Fakta jelas mengatakan bahwa Pep baru melatih sebuah klub saja, yaitu FC Barcelona. Dan, banyak pihak yang berpendapat bahwa pondasi yang dibawa Pep sekarang ini merupakan warisan dari Frank Rijkaard, pelatih Barca terdahulu yang berhasil memberikan tropi Liga Champions pada musim 2005/2006. Dan, jika Anda seorang penggemar sepakbola yang rajin mengikuti perkembangan Liga Champions sejak awal 2000-an, Anda akan sadari bahwa hal itu benar adanya. Permainan Barca pada era Rijkaard nyaris sama persis dengan era Pep Guardiola, tanpa ada perubahan; kecuali nama-nama para bintang dan para pemain lainnya.
Maka, wajar-wajar sajalah bila banyak fans bola yang menyerukan tantangan: bila Pep ingin diakui sebagai pelatih terbaik di dunia, maka ia harus membuktikannya dengan cara melatih klub lain, seperti Inter atau MU atau bahkan Chelsea (menurut beberapa kabar miring yang ada akhir-akhir ini). Dan, saya kira hal itu wajar dan adil. Pep memang harus membuktikan terlebih dahulu kemampuannya meletakkan pondasi di klub-klub lain, terutama di luar Spanyol, serta membawa klub-klub itu meraih kesuksesan yang sama seperti yang ia lakukan di Barcelona – seperti yang telah dibuktikan oleh Mourinho.

Jadi, wajarlah pula lah jika kita menobatkan Mourinho sebagai pelatih terbaik di dunia saat ini (bukan hanya yang termahal gajinya) – terlepas dari beberapa kontroversi terkait sikap dan omongannya. Omongan yang kasar dan sikap yang cenderung meledak-ledak bagi sebagian orang justru mencerminkan kejujuran dan “keapa-adaan” seorang Jose Mourinho. Di zaman telekomunikasi dan informasi seperti sekarang ini, kadang sulit untuk membedakan antara kekasaran omongan dan kejujuran. Saya pikir kita sudah kenyang mendengarkan omongan lembut tapi penuh tipu daya.

Dan, secara pribadi saya berpendapat, jikalau pun ada pelatih lain yang lebih hebat daripada Mourinho dalam kurun seabad terakhir, dialah Vittorio Pozzo yang membawa Italia juara Piala Dunia dua kali berturut-turut, yakni 1934 dan 1938.

Salam olahraga,
‘Ammar Lelo Andiko, fan sepakbola

Thursday, March 1, 2012

KLINIK PIJAT TUNA NETRA BERIJAZAH (NUR CAHAYA MASSAGE & SHIATSU)

Buat Anda yang berdomisili di daerah Malang Raya dan sekitarnya:
Anda pegal-pegal? Kurang bugar? Mengalami gangguan kesehatan?
Silahkan datang ke NUR CAHAYA MASSAGE & SHIATSU - Klinik Pijat Tuna Netra Berijazah, yang dikelola oleh Suryanto, S.I.P.!

Alamat: Jalan Dahlia 15 RT/RW 37/09, Sekar Putih, Pendem, Kota Batu (Depan Mushalla Al-Hidayah)

Therapist sangat berpengalaman untuk massage (pijat kesehatan), shiatsu, dan acupressure (sejenis massage dengan menggunakan teknik akupuntur).

Biaya murah & terjangkau.

  • Anak-anak Rp. 20.000,-
  • Dewasa Rp. 30.000,-
  • Panggilan Rp. 40.000,- (therapist/pemijat diantar-jemput)
Silahkan datang dan coba khasiatnya!

Contact person: Suryanto, S.I.P. (0341-6758537)





Sunday, February 19, 2012

ADDING VIRTUAL MEMORY ON MS WINDOWS 7

It has been so long time since the last time I wrote a post. This time I am interested to share you a little trick.

Is your computer that runs in Windows 7 slow? Or, did you get some notification stated that your virtual memory  was low? If the answer is "yes", it means that you need to buy new or additional memory (RAM). But, how if you don't have sufficient money to afford one, or what if you don't intend to do so in any reason? 

Here we are going to do some trick to solve it. All we have to do is to add its virtual memory. Theoretically, adding virtual memory is to enlarge RAM capacity by using the free space of hard disk drive. Since the speed of HDD would never equalize the speed of DDR/RAM (because HDD reaches its clock through mechanical speed [RPM], meanwhile DDR gets it through electrical speed [Hz]), it's impossible to match 4 GB of RAM/DDR with  4 GB of RAM + additional HDD virtual memory. But, it's still worthy than nothing to do.

Okay! Let's go straight to things we wanna do! 
  1. Click "Windows" button on the lower left corner! Then click "Control Panel"!
  2. After it, the window like below will be shown. Then click "System and Security" section!
  3. Then click "View amount of RAM and processor speed"!
  4. Then click "Advance system settings" on the left panel!
  5. Click "Advance" tab -> Click "Settings" on "Performance" section!
  6. Click "Advance" tab -> click "Change" on "Virtual memory" section!
  7. Uncheck "Automatically manage paging file size for all drives" box -> select "C:" drive -> click "Custom size" radio button! In the "Initial size" box you can type the allocated bytes that you want. (Here I gave 2048 MB - higher than recommended.) In the "Maximum size" box you can double the amount. (Here I doubled it to 4096.) Then click "Set" -> "OK"!
  8. After all, the "Performance Options" window will show that now our virtual memory is 2048 MB - which is taken from HDD.
This has worked very well in my operating system: Microsoft Windows 7 Starter Edition Service Pack 1. I hope it will work in your OS too.


Thursday, October 6, 2011

KOMENTARKU TENTANG STEVE JOBS DI FACEBOOK

Steve Jobs - pendiri Apple ini - bagi saya merupakan salah satu inspirasi, seperti bagi banyak orang lain di muka bumi. Saking inspiratifnya beliau, kematiannya meninggalkan sesuatu yang tak biasa di dalam hati. Secara personal, saya merasa bahwa jalan pikiran dia dan saya sama dalam beberapa hal. Hanya saja, saya belum sepenuhnya mampu mengikuti kata hati, seperti yang ia dan saya sama-sama sepakati.

Saya pun menuangkan emosi dalam jiwa dengan menulis beberapa status berikut di Facebook. Semoga bisa menjadi renungan dan manfaat bagi kita semua!

What? I couldn't believe it for a moment while I read that Steve Jobs had already gone, Mate. Now I know he's gone forever. What a miss for the world! :(
--------------------------------------
Turut berduka cita yang dalam...
--------------------------------------
Steve Jobs adalah salah satu contoh jelas betapa seorang pria (manusia) harus menjadi. Ia contoh gamblang tentang apa makna sukses itu. Sekolah untuk belajar, bukan sekedar mencari gelar. Berilmu untuk akhirnya menciptakan karya puncak; manfaat puncak. Di saat orang lain cenderung untuk mengikuti arus yang sama, ia lebih memilih untuk mencari jalannya sendiri - menurut kata hatinya - mesti harus meninggalkan "pendidikan formalnya". Ia melanglang hingga ke "ujung dunia" dan melepaskan "ketololan" serta "kesemuan" formalitas di bangku studi. Label-label dan simbol-simbol yang dibuat di dalamnya, memang jauh dari memuaskan bagi pribadi-pribadi yang mencari pencerahan: yang mencari jati dirinya sendiri. Ia mungkin temukan "spiritnya" di India. Aku bahkan bingung kehabisan kata untuk menggambarkan pribadi yang satu ini.

Ia adalah seniman sejati. Ia adalah guru besar sejati. Semestinya profesor-profesor itu; dosen-dosen itu; dan orang-orang di dunia, belajar darinya mengenai apa arti kata "DEDIKASI".

"JADILAH APA YANG KATA HATIMU INGINKAN, SEBAB DENGANNYA KAU BISA BERMANFAAT BAGI DUNIA!"

---------------------------------------
Kawan! Jadilah seperti Steve Jobs; Bill Gates; atau orang besar lainnya yang bisa Kau lihat dengan jelas hari ini! Jangan ikuti "style" kampusmu, karena di sana hanya ada kemunafikan. Kau akan lebih banyak menipu dirimu sendiri. Coba Kau pikir, orang-orang yang duduk di atas sana, sebagian besar dari mana asalnya??? Apa yang mereka berikan??? Kerusakan bukan??? Kalau hanya untuk mencari makan buat perut sendiri, ayam pun juga bisa.

Jika Kau tanyakan mengapa, itu karena budaya pendidikan di Indonesia salah besar - sehingga menghasilkan orang-orang yang salah pula: pemimpin-pemimpin yang tidak semestinya. Kamu pikir, apa Kamu bisa jadi dokter dan insinyur bila Kamu tidak punya uang??? Dan, jika Kamu berhasil menjejakkan kaki di kampusmu, apakah Kamu tidak melihat sehari-harinya bahwa dosen dan profesormu lebih mirip pedagang dan pecundang yang tak berdedikasi???

Jika Kau rasa perlu meninggalkan kampusmu, tinggalkanlah sekarang - terutama bila Kau mampu! Ikutilah kata hatimu! "Jadilah seperti Steve Jobs!"

---------------------------------------
Subhanallah...! Saya baru saja menemukannya di internet. Sebuah komentar Steve Jobs yang mirip sekali dengan komentar-komentar yang barusan aku tulis di status. Berikut komentarnya: "Your time is limited, so don't waste it living someone else's life! Don't be trapped by dogma - which is living with the results of other people's thinking! Don't let the noise of others' opinions drown out your innervoice! And most important, have the courage to follow your heart and intuition! They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary." (Waktumu terbatas, maka jangan membuangnya dengan tinggal dalam "kehidupan" orang lain! Jangan terjebak oleh dogma - yang mana hidup dengan hasil dari apa yang orang lain pikirkan! Jangan biarkan suara-suara dari opini orang lain menenggelamkan suara hatimu! Dan yang terpenting, milikilah keberanian untuk mengikuti hati dan nalurimu! Kadang mereka sudah tahu, jadi apa yang benar-benar Engkau inginkan. Yang lainnya hanyalah sekunder saja.

Ternyata, suara kebenaran selalu datang dalam bentuk yang serupa. Itu tak bisa dibohongi oleh manusia manapun. Profesor terhebat pun hanya akan menjadi orang tertolol jika ia membohongi kebenaran hati.







Bagi saya pribadi, hal terpenting tentang Steve adalah sikap dan kepribadiannya. Banyak di antaranya merupakan hal-hal besar yang patut dicontoh - di mana pada masa kini kita, sebagai sebuah bangsa, menderita kekurangan contoh baik. Kekurangan contoh baik, di tengah masyarakat dapat mengakibatkan keputusasaan dalam berbuat baik. Dan, keputusasaan dalam berbuat baik, akan menimbulkan keengganan untuk berkarya, serta yang paling penting: "untuk mengikuti kata hati".


Sekali lagi, semoga bermanfaat!

Thursday, August 18, 2011

KAMPUS PRODUSEN KORUPTOR

"Yang terpuji yang mencuri."
Banyak paradoks di dunia ini - juga di negara kita tercinta. Namun di antara sekian paradoks, banyak yang tak tampak, terlupakan, atau malah sengaja dilupakan.

Jika kita melihat kampus dan mahasiswanya, tentu kita berharap bahwa dua unsur "intelek" tersebut adalah harapan terbesar bangsa. Idealnya memang begitu. Tapi, apakah kenyataannya seperti itu?

OK! Marilah kita lihat sejenak!
  • Maba atau mahasiswa baru masuk ke kampusnya dengan penuh semangat. Alumni SMA; SMK; dan MA itu masih menyisakan semangat "kepatuhan" yang mereka bawa dari sekolahnya. Buktinya: mereka mau disuruh apa saja oleh seniornya pada saat perpeloncoan. Mau berpakaian yang aneh-aneh di jalan-jalan, mau disuruh berbuat yang aneh-aneh oleh kakak tingkat. Sebelum ayam berkokok, mereka sudah stand-by di kampus. Semangat kepatuhan yang luar biasa - jika Anda melihatnya.

    Namun, tunggu saja satu-dua tahun! Semangat tadi akan berubah total. Mengapa? Simple: mereka mendapat contoh yang buruk. Dari siapa? Kakak tingkat? Bukan! Mereka dapatkan itu dari yang patut  digugu, yaitu "dosen".

    Bagaimana tidak? Dosen datang terlambat, dosen tak datang sama sekali, dosen menyalahi janji. Ironisnya, itu terjadi acap kali sehingga menjadi sebuah budaya (yang dianggap wajar - bahkan sudah semestinya terjadi, baik oleh si dosen maupun mahasiswanya). Jadi, tanpa disadari, budaya disiplin dan kepatuhan terhadap waktu yang sudah terbentuk selama kurang lebih dua belas tahun itu, sirna secara perlahan - tapi pasti. Jika Anda seorang mahasiswa, cobalah rasakan dalam-dalam! Bagaimana mungkin "tradisi jam 7" yang dipupuk selama 12 tahun bisa menjadi "tradisi jam karet"?

    Jadi: warga negara korupsi waktu, karena pejabatnya korupsi waktu, karena mahasiswanya (calon pejabat) korupsi waktu, karena dosennya (yang digugu) kurupsi waktu. Tampak seperti lingkaran setan, bukan? Tapi saya yakin Anda tahu: dari mana harus memulai jika kita ingin memperbaikinya.
  • Rata-rata maba yang sebagian besar baru lulus SMA, masih "berpengetahuan" polos. Mereka belum paham sepenuhnya praktek-praktek politik (trik dan intrik), meskipun pernah menjadi pengurus OSIS. Mereka bahkan - secara praktek - belum paham apa itu mark-up.

    Tapi, tunggu saja satu-dua tahun! Mereka akan menjelma menjadi ahli rekayasa dan tukang jilat. Mengapa bisa?

    Rata-rata dosen memberi nilai secara subyektif. Beberapa ada yang secara random. Penyebabnya? Ya itu tadi: mereka sering bolos, dan hanya punya sedikit waktu untuk mengenali mahasiswanya satu demi satu. Saat pengisian nilai, beberapa dosen punya kecenderungan untuk memberi nilai bagus pada mahasiswa yang dikenal saja, yang pintar mengambil hati mereka. Mahasiswa yang "paham", akan menjadi "pintar" menyikapi situasi ini. Yang "goblok"? Ya..., siap-siap saja jadi "macan kampus"! Jika pernah menjadi mahasiswa, pasti Anda tahu bahwa jadi mahasiswa cerdas saja tidak cukup untuk mendapat nilai bagus.

    Saat lingkungan bersifat subyektif, orang cenderung menjadi penjilat dan oportunis. Saat inilah fairplay jadi tak bermakna. Saat mahasiswa berpikir bahwa fairplay tak ada artinya, di saat yang sama ia akan berpikir bahwa belajar sungguh-sungguh tak ada gunanya. Bagaimana dengan syarat studi? Cukup main curang saja dan tipu-tipu. Bukankah ahli tipu-tipu adalah syarat untuk menjadi koruptor?

    Selama menjadi aktivis, mahasiswa banyak membuat proposal; banyak belajar mereka-reka pendanaan. Kecenderungannya: dalam membuat anggaran mahasiswa suka menggelembungkan dana hingga berlipat-lipat. Untuk jaga-jagakah? Bukan, tetapi untuk mengambil untung sebesar-besarnya. Mengapa?

    Teman-teman saya dari berbagai kampus sering bilang, "Dosen-dosen dan pejabat-pejabat kampus itu kalau ada proyek juga suka 'makan uang' dan ambil untung sendiri jika ada proyek atau kegiatan kampus. Kita sering nggak dapat sama sekali. Jadi, mengapa kita tidak buat demikian jika ada kesempatan?"

    Bagaimana menurut Anda? Parah? Lebih parah lagi saat ada kecenderungan mark-up yang dilakukan oleh para aktivis dibiarkan oleh dosen dan pejabat kampus, karena ada indikasi mereka juga dapat "alasan" untuk mengucurkan dana dari kas. Kampus memang tempat yang aman dan ideal untuk berlatih menjadi koruptor sejak dini. Hahaha...!
  • Para dosen sering berpikir bahwa merekalah "raja" - setelah apa yang mereka peroleh dengan susah payah: gelar master; doktor; dan profesor itu. Jarang di antara mereka yang berpikir bahwasanya merekalah pengabdi. Tak percaya? Jika Anda pernah menjadi mahasiswa, coba ingat berapa orang dari sekian dosen yang berlapang dada saat pendapatnya Anda sanggah? Dari penyepelean mereka terhadap nasib mahasiswa, kita bisa tahu bahwa mereka tak peduli pada mahasiswanya. Tak peduli pada orang-orang di bawah Anda, adalah salah satu syarat 'tuk jadi koruptor. Dan, sifat buruk inilah yang diwariskan kepada "calon-calon pejabat" Anda. Pembaca yang Budiman boleh percaya atau tidak, banyak di antara para sarjana yang berpikir bahwa mereka berhak mendapatkan sesuatu yang lebih "dengan jalan apapun" - karena gelar yang telah susah payah mereka peroleh. Karena merasa telah banyak berkorban demi gelar, mereka merasa berhak mengorbankan orang lain pula.

    Padahal, guru-guru kita selama kurang lebih dua belas tahun selalu mengajarkan sifat-sifat baik seperti menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menjadi pemimpin yang baik, dan menjadi orang yang tidak zalim baik pada dirinya sendiri maupun orang lain. Hal tersebut sesuai dengan semangat Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Namun, dihancurkan semena-mena oleh kampus, yang mana cuma dijadikan tempat bisnis oleh para dosennya; dan tempat untuk mencari ijazah (modal kerja) bagi para mahasiswanya.
Mungkin bagi beberapa pembaca tiga poin pendapat saya tadi bersifat subyektif. Namun, kita mesti berpikir juga: mengapa para pemimpin kita korup dan jahat. Bukankah rata-rata pembesar itu output dari kampus-kampus? Pasti ada yang salah dengan kampus. Logikanya: kampus adalah tempat paripurna di mana seseorang ditempa secara formal. Pasti ada yang salah.

Tuesday, August 2, 2011

4 PENYEBAB PELAJAR MALAS BELAJAR

Masih ingat dengan pepatah Guru kencing berdiri, murid kencing berlari? Kalau iya, apakah kira-kira Anda sudah paham betul apa makna yang tersirat di balik pepatah populer tersebut? Beberapa dari Anda saya yakini paham betul makna pepatah itu, tetapi mungkin lupa implementasinya.

Sejak zaman modern terbentuk, permasalahan yang terjadi di ruang lingkup kelas turut mengikuti timeline sejarah. Hipotesis atau bahkan hukumnya: "Semakin modern zaman, maka para pelajar menjadi semakin malas." Mengapa hal itu dapat terjadi? Atau..., bagaimana para pelajar (dalam hal ini: mahasiswa dan siswa, murid dan santri, atau apapun sebutannya) bisa menjelma menjadi pemalas?

Kita tidak hendak menafikan para pelajar yang rajin. Namun, mereka tentunya berjumlah minoritas, kalah banyak dibandingkan yang malas. Sementara dalam ilmu statistika, kelompok minoritas tidak bisa dijadikan sampel untuk pengambilan rata-rata; karena dapat mengaburkan hasil atau bahkan membuat hasil penilaian melenceng dari semestinya. Sebagai contoh: Juragan Amir kaya raya di kampungnya. Kebanyakan penduduk di  kampung Juragan Amir sering kelaparan. Tentu saja kita tak bisa membuat premis atau mengambil kesimpulan bahwa kampung Juragan Amir adalah kampung sejahtera, hanya karena seorang juragannya yang kaya raya.

Kembali ke topik. Berikut ini akan kita paparkan beberapa hal yang menyebabkan para pelajar bermetamorfosa menjadi para pemalas. Mungkin pembaca sekalian turut pula atau pernah merasakannya.

1. Dosen/guru sering telat masuk kelas

Tidak bisa kita pungkiri bahwa menunggu adalah suatu hal yang amat membosankan. Terlebih lagi bila yang ditunggu-tunggu adalah hal yang tak pasti. Dijamin Anda akan menjadi marah atau minimal sebal. 

Seorang mahasiswa yang sejak ayam berkokok sudah semangat bangun pagi; mandi sampai lupa sikat gigi; sarapan cuma makan roti, bisa tiba-tiba down tatkala setelah menunggu 1-2 jam ternyata sang dosen baru datang. Semangat yang tadinya membuncah, bisa sirna tak berbekas dalam 1-2 jam tersebut.

Contoh lain, lihatlah betapa liarnya murid-murid yang "ditinggal" oleh gurunya dalam kurun hanya 10 atau 15 menit! Mereka akan membuat kegaduhan dalam kelas yang dapat mengganggu siswa di kelas lain. Yang lebih parah: murid-murid itu akan berkeliaran ke luar kelas bahkan hingga ke luar pekarangan sekolah sehingga menimbulkan pemandangan "tidak sedap" terutama bagi siswa di kelas lain.

Saat guru mereka datang, niscaya akan sangat sulit bagi sang guru untuk mengumpulkan kembali siswanya tersebut; karena mereka sudah kadung "tertarik" pada hal lain dan malas untuk belajar. 

2. Dosen/guru tidak menepati janji yang telah dibuat

Dosen sering merasa bahwa mereka adalah sosok yang penting. Bahkan saking pentingnya, mereka sampai lupa bahwa tugas utamanya adalah untuk mengajar para mahasiswa. "Orang penting" tipe ini sering disibukkan oleh urusan-urusan yang tak ada hubungannnya dengan kelas dan mahasiswanya, seperti proyek; seminar di hotel A-gedung B; rangkap jabatan; dan lain sebagainya.

Akibat terlalu anggap enteng terhadap mahasiswanya, mereka seringkali mengabaikan janji yang telah dibuat, seperti jadwal rutin untuk mengajar; dan/atau jadwal make-up kelas. Yang paling sering dijadikan alasan adalah: "Mahasiswa harus lebih mandiri. Lebih banyak belajar sendiri!" Yang lebih parahnya, pakai persentase segala: "Mahasiswa sekian persen, dosen hanya sekian persen." Hal itu benar, tapi bukan berarti dapat dijadikan alasan untuk mangkir atau ingkar janji sama sekali. Coba tanya para mahasiswa - di mana saja - apakah pernah mereka berjumpa dengan dosen yang mangkir hingga satu semester!

Selain menjatuhkan semangat belajar, hal ini juga bisa menjadi contoh yang amat buruk. Jangan sampai mahasiswa kita berpikir bahwa suatu hari nanti saat mereka berada di atas; mereka bisa berbuat sekehendaknya dan bisa ingkar janji pada orang yang di bawahnya!

Kadang saya mencoba mengerti bahwa para dosen itu juga tengah berupaya untuk menjaga dapurnya agar tetap mengepul. Tetapi, kenikmatan yang kita peroleh, sedapat mungkin tidak mengorbankan kepentingan orang lain. Terlebih bila itu kita lakukan secara sadar. Jika kita memang menganggap kecil peran sebagai pengajar dibandingkan "ceperan" di luar, lebih baik kita lepaskan profesi pengajar itu - daripada makan korban. Padahal, orang tua siswa atau mahasiswa banting tulang, jual tanah-sawah, bahkan jual harga diri demi satu harapan: melihat putra-putrinya berhasil. 

3. Jadwal belajar yang tidak masuk akal

Pernahkah kita bertanya: "Apakah padatnya kurikulum memang benar untuk membuat anak-didik tambah cerdas, atau sekedar untuk mendatangkan proyek baru?" Jelas bahwa mata kuliah/mata pelajaran baru, berarti buku baru; LKS baru; seminar baru; anggaran baru; dan segala baru-baru yang lain.

Saya kira, para pembaca yang budiman sudah tahu bahwa di negara-negara maju, para anak-didik sudah dijuruskan sejak usia dini: SMP bahkan mungkin SD. Penjurusan berarti pelajaran yang diberikan menjadi lebih fokus, tidak melebar ke mana-mana. Penjurusan disesuaikan dengan "minat" dan "kemampuan" si anak. Tujuan penjurusan adalah untuk membuat pengajaran lebih mantap dan tidak sia-sia.

Coba bandingkan dengan kurikulum yang ditawarkan di negara kita! Mulai dari SD hingga perguruan tinggi sama saja. Padahal katanya: "Kalau ingin berhasil, kita harus fokus." Di mana teori itu dalam kurikulum kita? Maka, jangan heran apabila para mahasiswa dan para siswa kita menjadi pemalas bahkan cenderung menjadi pemberontak budaya! Itu semua akibat depresi yang mereka rasakan. Bagaimana tidak depresi? Anda saja jika oleh si bos diberi setumpuk pekerjaan dengan deadline yang "membunuh", kira-kira bagaimana jadinya?

4. Biaya pendidikan yang sulit dijangkau

Bukan hanya orang tua yang dibuat pusing bila biaya kuliah atau sekolah melangit, para pelajar pun demikian adanya. Jangan berpikir bahwa semua anak tidak tahu diri! Banyak di antara mereka tahu diri dan keadaan keluarganya, sehingga tak jarang kita jumpai para pelajar itu malas melanjutkan pendidikan dan lebih memilih bekerja setelah lulus. Hanya saja, alasan seperti itu jarang mereka mau sampaikan kepada orang tuanya langsung. Biasanya disampaikan kepada teman atau orang lain saat curhat-curhatan.

Saat faktor ekonomi lebih besar pertimbangannnya, niscaya orang akan malas untuk (sekedar) memikirkan hal lain yang tidak menghasilkan - seperti pendidikan misalnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Apabila diamati, empat hal tadi adalah faktor internal utama yang selalu berpotensi menimbulkan kemalasan untuk belajar. Faktor yang datangnya dari dalam tubuh dunia pendidikan itu sendiri. Jika dibalik atau dinegasikan, keempat faktor tadi justru bisa menjadi solusi. 

Dosen/guru jadi lebih tepat waktu, dosen/guru jadi lebih tepat janji, kurikulum jadi lebih akomodatif dan manusiawi, biaya pendidikan yang tak membuat orang tua berpikir ulang untuk menyekolahkan anaknya. Negara kita bisa mulai dari hal-hal yang prinsipil seperti itu. Kita belum lagi membahas trik-trik menghilangkan kemalasan belajar, seperti yang telah dilakukan oleh negara-negara maju - meskipun itu esensial guna mendorong semangat belajar. Di Amerika dan Eropa mereka menggunakan sarana audio-video dan multimedia untung merangsang anak-didik. Di sebuah negara di Skandinavia mereka bahkan mengizinkan murid-murid SD untuk mengenakan sandal-sandal unik (yang biasanya dipakai sebagai sandal tidur) hanya demi menambah antusiasme murid-murid itu datang ke sekolah. 

Monday, August 1, 2011

KEGAGALAN PENDIDIKAN INDONESIA

Saat diwawancarai oleh tvOne beberapa hari yang lalu - terkait dengan pernyataan kontroversialnya - Marzuki Ali sempat berkomentar bahwa kebobrokan bangsa ini berasal dari gagalnya pendidikan. Menurut beliau, sejak awal pendidikan lebih mementingkan bagaimana meraih nilai bagus ketimbang bagaimana meraih moral yang bagus.

Dalam hati saya mengamini komentar tersebut. (Cuma komentar itu lho! Bukan yang terkait pembubaran KPK.) Saya kemudian teringat betapa hancurnya pendidikan nasional kita. Padahal, boleh dibilang pendidikan adalah nyawa bagi sebuah bangsa. Bagaimana tidak? Seorang miskin; yang tidak punya banyak harta; namun punya pendidikan yang bagus; alias cerdas, niscaya akan mencapai kekayaan yang ia idam-idamkan - meski secara perlahan. Pelan tapi pasti, kira-kira begitu. Sementara, seorang yang kaya raya; tapi bodoh, niscaya akan semena-mena menghamburkan kekayaannya - hingga ludes. Ironi tersebut bisa mewakili situasi bangsa kita pada masa kini.

Bayangkan saja! Semenjak komersialisasi pendidikan lewat BHMN (yang belakangan dibatalkan MK); lewat alasan kemandirian pendidikan; atau segudang alasan lainnya, sekolah-sekolah dan kampus-kampus (terutama negeri) berlomba-lomba untuk menaikkan bea masuk dan uang SPP. Mereka juga giat menjual bangku-bangku (dengan harga yang tidak masuk akal) berlabel cadangan. Angkanya bisa menembus ratusan juta Rupiah.

Alhasil, banyak anak-anak pintar dan cerdas yang gagal melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA atau perguruan tinggi. Anehnya, anak-anak cerdas tersebut identik dengan keluarga kurang mampu. Lama-kelamaan, saya melihat kampus-kampus top Indonesia layaknya timnas sepakbola Indonesia, dimana squad atau komposisinya tidaklah mencerminkan potensi terbaik dari putra-putri tanah air. Mereka yang ada di panggung tersebut hanyalah mereka yang kebetulan beruntung, karena memiliki uang lebih; memiliki koneksi; atau benar-benar dapat hoki akibat status dan sebagainya. Menyedihkan nian.

Saya - saat ini - amat tidak yakin bila mahasiswa-mahasiswa yang duduk di gedung-gedung megah UI; ITB; UGM; ITS; Unpad; IPB; dan sebagainya, adalah squad terbaik yang dapat memenangkan "trophy piala dunia". Begitu pula dengan siswa-siswi yang duduk di sekolah-sekolah mentereng di tanah air (bahkan yang berlabel plus atau sekolah bertaraf internasional), mereka belum tentu best of the best. Mereka adalah segelintir anak-anak yang "beruntung".

Kampus-kampus terbaik yang sudah lama tersohor di negeri ini, berubah seperti Mozilla yang menginjak-injak serta meluluh-lantakkan pendidikan itu sendiri. Lihatlah bagaimana mereka menjual selembar formulir pendaftaran ujian dengan harga hingga 800 ribu Rupiah! Sekolah-sekolah yang berlomba-lomba mengejar status bertaraf internasional, menjelma menjadi sekolah-sekolah "bertarif" internasional.

Saya pikir setiap orang tua yang menyekolahkan atau mengkuliahkan putra-putrinya sudah khatam mengenai hal ini. Bagi mereka yang memiliki putra di perantauan, tentu akan merasa lebih tercekik lagi mengingat mahalnya uang kos dan biaya hidup di kota-kota besar tempat kampus-kampus dan sekolah-sekolah top itu berada. (Dan, ironinya lagi: akibat pembangunan yang sejak awal tak merata, hampir semua kampus dan sekolah top tersebut berada di kota besar.)

Mungkin pembaca sekalian berargumen, "Ah! Kalau pintar kan bisa dapat beasiswa," atau "Kalau mau pintar memang harus mahal." 

Lalu, saya akan bertanya, "Di manakah nasib buat si miskin dan si bodoh?"

Padahal, tujuan hakiki dari pendidikan adalah untuk "mencerdaskan kehidupan bangsa". Dan, hal itu dijamin oleh undang-undang. Jadi, negara itu harusnya berfungsi untuk membuat masyarakat yang bodoh menjadi cerdas, dan untuk menjamin bahwa setiap warga negara yang bodoh itu memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pintar. Kalau cuma membuat yang pintar menjadi pintar; atau yang kaya menjadi pintar, Ali Baba pun bisa. Yang pintar dan yang kaya tersebut sudah ada di UI, ITB, UGM, ITS, Unpad, IPB, dan lain-lain. Hehehe...

Jika kita terus berpikir ala kapitalis, (khusus untuk dunia pendidikan) percayalah bahwa kita tengah meletakkan masa depan bangsa ini di ujung tanduk! Tinggal menunggu kapan pecahnya.

Kebijakan kampus-kampus dan sekolah-sekolah top untuk memberikan beasiswa buat segelintir mahasiswa atau murid pintar, bukanlah solusi. Menurut saya, itu hanyalah formalitas untuk menunjukkan pada publik bahwa mereka juga peduli pendidikan. Padahal, (sekali lagi) tujuan pendidikan adalah untuk "mencerdaskan bangsa"; bukan segelintir orang. Maksudnya, biar yang pintar-pintar yang dapat beasiswa itu, nggak jadi pintar sendiri sehingga "memintari" masyarakatnya - seperti yang sering terjadi belakangan ini. Semestinya, kita semua sama-sama pintar sehingga sama-sama berpikir tentang baik dan salah. Bukan seperti yang terjadi sekarang: kita masih ribut tentang mana yang benar, mana yang salah. Itu contoh kasus yang menggambarkan bahwa pintarnya orang Indonesia masih jomplang.

Sekelumit masalah pendidikan di atas belum termasuk masalah: sekolah yang atapnya bocor, madrasah yang dindingnya hampir rubuh, masyarakat pedalaman yang masih buta huruf, atau kualitas dosen dan guru yang kurang profesional, atau kontroversi ujian nasional. Tetapi, minimal kita bisa mengetahui secuil: apa pendidikan itu, dan bagaimana ia semestinya dikelola (bukan dikomersilkan.)

Sunday, July 31, 2011

KLUB SEPAKBOLA DENGAN SITUS BERBAHASA INDONESIA


"Wow...! Luar biasa!" Sebagai seorang Interisti atau fan klub sepakbola Internazionale Milan, itulah kata-kata yang dapat saya ujarkan setelah mengetahui page atau halaman baru situs Inter yang berbahasa Indonesia. Ungkapan kegembiraan itu tersampaikan karena hal yang selama ini diharap-harapkan akhirnya datang juga.

Sebelumnya, sudah ada beberapa klub raksasa dunia yang memiliki page khusus berbahasa Indonesia, seperti:

Juventus FC

AC Milan

Official sites berbahasa Indonesia yang dibuat oleh klub-klub raksasa tersebut, membuktikan bahwa Indonesia cukup diperhitungkan dalam jagad sepakbola. Dengan penduduk sekitar 240 juta jiwa, Indonesia merupakan aset besar bagi olahraga terpupuler di dunia ini. 

Saya catat, di Asia Tenggara; selain Indonesia, hanya Thailand yang memiliki official pages pada sites klub-klub raksasa dunia, seperti pada site milik Chelsea. Lazimnya, selain Inggris, bahasa yang digunakan dalam official sites klub-klub tersebut antara lain seperti: Arab, China, Spanyol, Jepang, dan Korea.

Walaupun prestasi sepakbola Indonesia belum se-raksasa jumlah penduduknya, minimal kita dapat berbangga hati karena antusiasme fans sepakbola dari Indonesia  (yang terkenal fanatik) masih diperhitungkan oleh dunia sepakbola internasional. Semoga di masa yang akan datang akan bermunculan lagi official pages berbahasa Indonesia dari raksasa-raksasa sepakbola lainnya! Amin!

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1432 H

Umat Islam seluruh dunia kembali didatangi oleh bulan mulia: Ramadlan. Tahun ini, di Indonesia, puasa dilaksanakan di tengah teriknya musim kemarau. Cuaca yang amat menyengat, akan terasa di sejumlah kota besar, seperti Jakarta; Surabaya; dan Medan. Tentunya, ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi kaum muslimin-muslimat untuk menggenapi puasanya.

Namun, terlepas dari semua itu, saya hendak menyampaikan:
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1432 H! Semoga amal ibadah kita menjadi barokah!

Thursday, March 10, 2011

Solving Chrome Error 3 (Making Your Chrome Able to Update)

Dear, Chrome Users! You might face the same problem I faced. It's about Chrome error 3, where 

"Update server not available (error: 3)" would be shown - while you tried to access the update.

After facing so many trials and errors, here is the solution. As an information, my operating system is MS Windows 7. You will perhaps find different situation while using another OS, but it would take similarity in the operation. You just need to do a little bit adaptation for that.
  1. Open your "registry editor" by pressing "Windows button" and typing "regedit" (without double quotation marks)!
  2. Click Ctrl+F to open "Find box"! Then type "GoogleUpdate.exe" (without double quotation marks)!
  3. You might wait for several time. After that, right-click the "path" and choose "Modify"!
  4. Copy all "value data" from the box!
  5. Then, find these path: HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{2F0E2680-9FF5-43C0-B76E-114A56E93598}
  6. After that, you should make a new key under that directory. From the "edit" menu, just click new-menu! Then, you should rename the new key with LocalServer32. So, it's going to be HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{2F0E2680-9FF5-43C0-B76E-114A56E93598}\LocalServer32
  7. Next, you should "modify" the string value inside the key. Just right-click the "default" and modify it! Paste the "value data" you already copied, then click OK!
  8. At last, you just need to run your Chrome, and click "About Google Chrome", then find out that it's done and updated already - like shown by the picture below.

    Wednesday, February 23, 2011

    TANGAN TUHAN

    Lokasi: depan Lab. Telematika, Teknik Elektro - ITS, waktu: Rabu, 23 Februari 2011; pagi, antara 09.00-10.00

    Saya duduk dengan seorang teman, menanti kedatangan dosen. Beberapa saat datanglah seorang pria paruh baya, dengan postur tinggi besar dan agak gemuk. Ia mengambil posisi duduk dekat saya, di bangku yang sama.

    Pak Rus: Menunggu dosen ya, Mas?
    Saya: Iya, Pak.
    Pak Rus: Siapa?
    Saya: Pak Hariadi, Pak.
    Pak Rus: Oh...! Saya juga menunggu Pak Hariadi.
    Saya: Mmm..., Bapak dosen di sini juga atau...?
    Pak Rus: Oh! Saya mahasiswanya Pak Hariadi.
    Saya: Ooo...! (Sambil mengangguk-anggukkan kepala) Mahasiswa S3 ya, Pak?
    Pak Rus: Iya, Mas. Mas sendiri?
    Saya: Saya mahasiswa S2, Pak.

    Selanjutnya, lelaki itu pun beralih pertanyaan ke Mas Dirvi, teman saya, yang berdiri dekat tiang di depannya. Sementara saya kembali sibuk dengan artikel pada laptop yang saya pangku sejak awal.

    Selang beberapa saat, saya tertarik dengan percakapan antara Pak Rus, Mas Dirvi, dan seorang ibu; mahasiswa S3; teman Pak Rus; yang datang kemudian. Perbincangan soal beasiswa lah yang mebuat saya tertarik.

    Saya: Bapak kuliah S3-nya dapat beasiswa ya?
    Pak Rus: Iya, Mas. Saya dari awal kuliah pasca dapat beasiswa.
    Saya: Mmm..., bagaimana caranya, Pak? Lewat rajin baca-baca informasi di pengumuman ya?
    Pak Rus: Iya, Mas. Saya ikutin info yang ada di tempat saya kerja.

    Setelah perbincangan antara kami berempat, diketahuilah bahwa Pak Rus ini adalah seorang PNS di tempatnya bekerja, di Jojga. Namun, hanya sebagai seorang tukang kebun. Kontan hal tersebut membuat saya semakin tertarik pada pria berkukit coklat ini, yang juga berpenampilan simpatik, low-profile, dan tampak ramah.

    Saya: Lho! Bagaimana ceritanya, Pak? (Tanya saya dengan penasaran. Teman saya pun tak kalah heran. Kami menyimpan kekaguman yang serupa.)
    Pak Rus: Saya ini... D2-nya di teknik. D3 nggak selesain (karena suatu permasalahan yang diceritakannya pada kami, tapi tak akan saya paparkan di sini). S1-nya di ekonomi. S2 juga ekonomi.
    Saya: Terus kok bisa S3 di teknik, Pak?
    Pak Rus: Basic saya kan di teknik, Mas. Dulu waktu mau ambil S1, dosen saya bilang, "Ngapain Kamu ambil ekonomi? Nggak, nggak nyambung itu." Tapi saya tetap ambil saja. Saya kan dapat beasiswa.
    Saya: Ooo...!
    Pak Rus: S2-nya saya ambil manajemen. Lalu, dosen saya juga ada yang bilang begitu, "Ngapain Kamu ambil ekonomi? Nggak cocok. Banyak saingannya. Ntar susah ketrima kerja." Lha! Terus saya pun kuliah S2 lagi di teknik.
    Saya: Lha! Bagaimana bisa, Pak? Kok bisa nyambung dengan teknik? (Saya sambil terpelongo.)
    Pak Rus: Ya itu, berkat Tangan Tuhan, Mas. Kalau nggak, nggak bakalan mungkin. Saya juga lulus tepat waktu. Sementara ada tuh temen saya seangkatan S2-nya tapi nggak lulus-lulus sampai sekarang. Kadang saya jadi nggak enak pas ngasih-ngasih saran. Mereka malah jadi tersinggung.

    Kami pun tertawa mendengar penjelasan Pak Rus yang polos dan low-profile itu.

    Saya: Hebat ya, Pak! Bagaimana bisa? Apa Bapak rajin ke lab? Riset begitu? Bagaimana?
    Pak Rus: Ya itulah, Mas. Saya juga nggak tahu. Biasa saja. Berkat Tangan Tuhan itu. Saya saja sampai sekarang nggak percaya. Terus..., habis tamat S2 saya juga langsung S3, seperti sekarang ini.
    Saya: S2-nya dulu juga beasiswa?
    Pak Rus: Iya, Mas. S1 saya dulu kan juga. Dari S1 itu. S2 juga. Sekarang S3 juga. Lumayan, per tahun dapat 36 juta dari Dikti. Itu langsung dapat. Walau saya harus presentasi dulu di Jakarta, di depan Dirjen. Orangnya sambil mantuk-mantuk dengar saya. He, he...! (Kami pun ikut tertawa ringan.)
    Saya: Wah, hebat! Lumayan sekali itu, Pak. Bagaimana caranya?
    Pak Rus: Ya itu: Tangan Tuhan, Mas. (Kata-kata yang sering sekali ia ucapkan. Tampak sangat bersyukur.)
    Saya: Iya ya, Pak. Hari gini kita harus giat mencari beasiswa. Apalagi tuk pasca.
    Pak Rus: Iya, Mas. (Iya mengamini sambil mengangguk ringan.) Ya...! Lumayan lah, Mas. Uang beasiswa kan lumayan buat tambah-tambah. Wong disuruh sekolah kok.
    Saya: Hebat Bapak ya! Sekolah terus tanpa henti, sampai sekarang S3. (Saya berulang kali bertanya padanya tentang bagaimana ia bisa melewati itu dengan mulus hingga S3, dan bagaimana ia melakukan riset-riset akademik. Seolah saya tak percaya. Terlebih, ia mengambil bidang yang berbeda-beda untuk beberapa jenjang. Dan, lagi-lagi ia menjawab, "Berkat Tangan Tuhan.")
    Pak Rus: Iya, Mas. Saya saja banyak yang crash di kantor (tempat ia sebagai PNS). Orang-orang di kantor pada ngomong, "Tukang kebun kok S3." Banyak yang skeptis dan nggak setuju, Mas. Ya..., gontok-gontokan mereka itu. He, he! (Kami pun ikut tertawa ringan. Dan, saya tetap tak bisa menyembunyikan kekaguman saya. Terutama saat tahu bahwa dulu saat lulus D2 dia hanya mendapatkan pekerjaan sebagai tukang kebun yang urusannya bersih-bersih dan lain sebagainya - saat seseorang menawarkannya untuk jadi PNS.)
    Saya: Hebat sekali, Pak!
    Pak Rus: Berkat Tangan Tuhan, Mas. Saya juga nggak percaya bisa sampai sini. Tukang kebun kok S3.

    Pak Hariadi, dosen yang ditunggu-tunggu pun, datang. Percakapan singkat, tapi sangat bermakna, pun usai. Namun, dari sana... saya sadar bahwa banyak hal yang tidak masuk akal bagi kebanyakan orang, tapi bisa tercapai selama Tuhan menghendaki; selama Yang Maha Kuasa menolong.

    Sunday, February 20, 2011

    SEJUTA FACEBOOKERS TOLAK BOIKOT FILM ASING


    Ikuti grup di Facebook untuk menolak pemboikotan terhadap film asing! Grup ini dibuat untuk menggalang penolakan terhadap boikot film-film asing (Hollywood, Bollywood, Mandarin, dan lain-lain).

    Seperti yang telah kita ketahui, pemerintah hendak menerapkan bea masuk bagi distribusi film-film impor. Hal itu sangat mengancam keberadaan fillm-film asing untuk masuk ke Indonesia, baik di bioskop maupun di keping-keping CD atau DVD.

    Bayangkan! Anda tak kan bisa lagi menyaksikan film-film seperti Spiderman, James Bond, Fantastic Four, Twilight, dan lainnya. Anda juga tidak akan bisa lagi memandang dan menikmati akting dari aktor dan aktris favorit Anda, seperti Tom Cruise, Angelina Jolie, Tom Hanks, Brad Pitt, Julia Roberts, Sharukh Khan, Jackie Chan, Andy Lau, dan lain-lain.

    Sementara itu, film-film lokal sebagian besar masih buruk kualitasnya, kurang mendidik atau cenderung merusak dengan cerita-cerita mistis berbau seks dan kekerasan, rata jalan cerita alias alurnya, dan cenderung picisan alias lebih mementingkan komersialitas tanpa begitu menghiraukan kualitas.

    Mau dibawa ke mana generasi bangsa ini dengan tontonan yang semakin tak berkualitas? 

    "Seperti diketahui, kebijakan bea masuk film impor sendiri tertuang dalam SE-03/PJ/2011 tentang Pajak Penghasilan (PPh) atas penghasilan royalty dan perlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas peredaran film impor. Pihak distributor juga dibebani tarif PPN dan PPh atas film impor flat sebesar 0,43 dolar atau setara Rp 3.870 per meter.

    Kebijakan itu pun langsung direaksi MPA, sebagai erwakilan produsen film Hollywood di Indonesia dan Ikatan Perusahaan Film Impor Indonesia (perwakilan produsen film Mandarin dan India). Mereka pun memutuskan  menghentikan peredaran film-film mereka di Indonesia." (Dikutip dari: SurabayaPost.co.id)

    Monday, February 14, 2011

    What is The Essence of Valentine's Day (for You)?

    What is the essence of Valentine's Day for you?
    I think, that is an interesting question somebody can ask to you - especially if we connect it to the nearest event.

    February 14th is celebrated annually by people around the world, especially by the couples who are falling in love each other. It's such an obligation to send chocolate or a bucket of flowers to your spouse or lover. Obligatory, it's also a thing to do to have a candle light dinner together, and then lasted by a romantic date - whole night long.

    Aha! Is it just that's all like? No, I think! In my opinion, Valentine's Day is not just about loving and staying all night long with your lover. But, it's larger. It has biggest aspect it can have - as long as still related to all about love and affection. So? You can share your affection, attention, and also love to everybody needing, to each member of your big family, to your neighbors, to your partners and/or relations, to the orphans, to the homeless people, to the beggar, to the poor, and even to your enemy or fierce rivals.

    As long as you can celebrate the day with that, you succeed to celebrate Valentine's Day or Day of Affection.   

    Still The Same

    By: 'Ammar Lelo Andiko

    You told me it's different
    You told me it's a high-end
    I tried to trust you
    I did it with no question in two

    But you forget one thing
    The thing all people think
    It's still the same, Mate!
    It's still the point we hate

    You asked me why it's happened
    You know we both already waited
    You asked me why we're still here
    You know it's still the same there

    The rest is just the way to come home
    Together we laugh at stupidity of our own
    On the edge of that junction, Friend
    I said, "It's still the same," again

    Surabaya, February 13th 2011
    To a nation that will change

    Sunday, February 13, 2011

    Next Derby of Italy

    Courtesy of: 4.bp.blogspot.com
    In hours we will watch together the big match between Juventus and Inter Milan. This derby - which is well-known with Derby d'Italia - meets two fierce rivals those have been enemies each other since the very beginning of Italian football rise. The meet between the two teams always give attractive and high tension game. Both's supporters have huge prides for their each team. The loyalty to the club should even often be paid by the blood whenever there was a clash between them. Italian police have to provide tight security for the two team's matches to prevent big and larger anarchy by supporters. 

    It's the hottest in Italy. Even hotter than Derby della Madonina, which meets Inter and AC Milan. That's why   That's why the match is called as Derby d'Italia, which means the derby of Italy. That's why this match called as a derby - though most derbies meet two teams in a city.

    As an Interisti, of course, I support Inter to win. In a social network site, I read that some people dare Inter to win 2-0 in Juve's home in Turin. I agree with that, and I think that's worthy for Inter today's status. But, you may have different idea - especially if you're a Juventini - related to the previous meetings of the two teams. Inter won 14 times, drew 17 times, and lost 60 times.

    Forza Inter!

    Saturday, February 12, 2011

    Connecting Facebook, Twitter, MySpace, and YouTube

    It's been so long since the last time I posted "tricks" labelled post. This time we're going to find out how to connect Facebook, Twitter, MySpace, and YouTube each other. You know that the four social networks are so essential in our daily lives. Some of us use more than one of them. Two, three, or sometimes four. We do know it. But, we often feel lazy to open them all in one same time. You can imagine how our browser could be, while they all are opened. It's gonna be messed up, isn't? Hard to gaze at.

    Someday you might think to post a status or comment or tweet, but it (the status) is going to be updated and shown in other accounts. For example: you tweet in Tweeter, then you want your tweet to be shown in your Facebook account. Here, we're try each possibility to do so for those four social networks.

    1. Connecting Twitter and Facebook
    • Log in to your Facebook account!
    • Do searching with query "twitter"! After doing this you'll find third party application by Twitter.
    • Then let this app to be used in your Facebook account by clicking "allow"!
    • The rest is gonna be so easy, just by following further instruction needed.
    • Next, you need to check the box of "Facebook Profile" to allow Twitter to post update to your wall.
    • The last, you will see the next window 

    You can see that there's a statement where "Your Facebook & Twitter accounts are connected!" After all, your tweets will be updated also in your Facebook, but it might not be the same vise versa. It means that your Facebook status will not be updated in your Twitter timeline. It's a single direction telecommunication.

    2. Connecting MySpace with Facebook, Twitter, and YouTube

    These are gonna be easier because we just find all links to connect the four accounts in one page only.
    • Sign in to your MySpace account first!
    • Point to "My Stuff" drop down menu to find "Account Settings"! Then click it!
    • In settings you will find "3rd Party Syncing". It's a sub-menu of "Stream Settings" in bottom left corner. Then click it!
    • In this 3rd Party Syncing, you'll be offered to link your MySpace to any other four accounts: Twitter, Facebook, Yahoo, and YouTube.
    • You just need to click and follow the Sync button to make links with other accounts.
    • By clicking, the new tab/page will be opened for you, which will bring and direct you to each account you mean. Of course, you need to log in or sign in first. Each operation is so simple and easy to trace.
    • After all, you'll see your sync status that it's stating whether your accounts synced already.
    • Between MySpace and Twitter, your sync is bidirectional. It means that your tweet will be shown in your MySpace status, and vice versa: your status will also be able to show in your tweet. Between MySpace and Facebook, you only have single-direction communication, where your MySpace status will be shown in your Facebook status, but not vice versa. It's same with sync between Twitter and Facebook. Between MySpace and YouTube, you also find single-direction communication, where your video upload and comment will be shown or updated in your MySpace status - not vice versa.
    • The character of communication direction, can be seen on the window below.

    From things we've done, we will have known that Facebook is the most flexible site among the four. It can accept and show all tweets and statuses from Twitter and also MySpace. The status update from Facebook cannot be shown in Twitter and MySpace. It's probably caused by unsupported apps yet - provided by the last two sites. I've also found no way to sync Facebook and YouTube.

    That's all for this time. Happy trying!