Showing posts with label Olahraga. Show all posts
Showing posts with label Olahraga. Show all posts

Tuesday, May 1, 2012

Keperkasaan Manchester City


(Courtesy of: Goal.com)

City kembali membuktikan bahwa skuad mereka lah yang layak menguasai kota Manchester pada musim ini. Hal itu dikukuhkan setelah berhasil mengalahkan Manchester United 1-0 di Emirates Stadium. Kemenangan City tersebut diraih berkat gol semata wayang sang kapten, Vincent Kompany, menjelang jeda turun minum.
Secara keseluruhan, skuad Roberto Mancini menguasai jalannya pertandingan. Dari awal pertandingan kubu tuan rumah sudah langsung menggedor pertahanan MU. Tercatat beberapa peluang apik diciptakan oleh tim milik Sheikh Mansour ini. Diawali pada menit ke-16, saat Carlos Tevez memberi umpan kepada Sergio Aguero, tapi berhasil dihalau oleh bek MU, Phil Jones. Beberapa saat kemudian Aguero kembali berupaya untuk membobol gawang lawan dengan sepakan volinya. Sayang bola melayang di atas mistar gawang. Pada menit ke-36 bek sayap City, Pablo Zabaleta, melakukan shot jarak dekat ke arah gawang MU, namun berhasil dengan sigap bola diamankan oleh De Gea. Barulah pada akhir-akhir babak pertama, Vincent Kompany berhasil membobol gawang MU melalui bola sundulan, berawal dari umpan tendangan sudut yang dilesakkan oleh David Silva.
Pada babak kedua pun City tetap menerapkan strategi menekan tim tamu. Otomatis MU nyaris tak berkutik di sepanjang laga ini. Tercatat beberapa peluang diciptakan oleh Samir Nasri pada menit ke-58, Yaya Toure pada menit ke-72, serta beberapa sepakan oleh Sergio Aguero dan Gael Clichy. Jika saja beberapa shot tidak melenceng dan De Gea tidak bermain gemilang, bisa saja gawang MU kebobolan cukup banyak seperti pada pertemuan pertama di Old Trafford.
----------------------------------------------------------------------------
                Hasil ini tentu saja mengubah posisi klasemen sementara di pekan ke-36. Manchester City kembali menguasai posisi puncak, setelah berminggu-minggu tempat ini direnggut oleh MU. Meski jumlah poin mereka sama dengan MU, tetapi mereka unggul selisih gol dari si tetangga. Dan dengan sisa dua pertandingan lagi di musim ini, peluang City untuk menjadi kampiun terbuka amat lebar. Seperti yang dikatakan oleh Sir Alex Ferguson sebelum pertandingan bahwa Derby Manchester ini akan sangat menentukan hasil akhir perburuan gelar juara di antara kedua klub.
                Terlepas dari semua itu, perjuangan dan mental juara skuad besutan Roberto Mancini patut diacungi jempol. Sempat memimpin dengan selisih hingga 5 poin dari rival sekotanya, City justru balik tertinggal 8 poin di paruh kedua musim ini. Namun, secara perlahan ketertinggalan tersebut tereduksi hingga bersisa tiga poin saja – dan akhirnya kini sama dengan raihan poin MU: 83 poin.
                Catatan kemenangan City di Premier League musim ini sama dengan MU, yakni 26 kali. Begitu pula dengan hasil seri dan kalah kedua klub, masing-masing 5 kali bermain seri dan 5 kali mengalami kekalahan. Namun, hasil yang lebih impressive dibuktikan oleh kubu City dengan meraih catatan tak terkalahkan selama bermain di kandang. Jadi, seluruh kekalahan yang diderita kubu The Citizens selama musim ini terjadi kala bertandang ke markas lawan. Maka, wajarlah bila MU kesulitan untuk mengalahkan City di Emirates Stadium pada dini hari tadi.
                Dari catatan impressive dan perjuangan yang begitu keras dan dramatis selama hampir semusim ini, pantaslah jika kemudian Manchester City kembali merengkuh tropi Liga Inggris – setelah 36 tahun. (Terakhir City juara pada musim 1975/76.) Terlebih lagi, City berhasil mengalahkan rival utamanya dua kali dalam perburuan gelar juara. Bahkan pada pertemuan pertama mereka sukses memukul MU dengan skor 6-1 – yang oleh Sir Alex disebut sebagai kekalahan terburuknya selama melatih MU. Di samping itu, Sir Alex pun mengakui bahwa kekalahan di derby kali ini akan mengakhiri kans MU untuk juara, meskipun Manchester City harus bertanding melawan Newcastle United pada pekan berikutnya.

Salam olahraga,
‘Ammar Lelo Andiko, fan sepakbola

Thursday, April 26, 2012

Final El Classico yang Gagal, dan Biang Keladinya


(Courtesy of: rizqiebook.blogspot.com)
Real Madrid baru saja mengalami kekalahan dari klub Jerman, Bayern Muenchen, pada lanjutan semifinal Liga Champions Eropa. Sebuah kekalahan yang menyakitkan (tepatnya begitu), karena diderita dari kekalahan adu pinalti. El Real dipaksa melakoni adu pinalti setelah gagal mengubah skor 2-1 yang bertahan hingga  90 menit pertama + tambahan waktu 2 kali 15 menit. Skor tersebut membuat agregat sama dan kedudukan seimbang antara kedua tim, karena pada pertandingan leg pertama Muenchen juga unggul dengan skor sama di Allianz Arena.
Dua penendang awal El Real, yakni Cristiano Ronaldo dan Kaka’, gagal menceploskan bola ke gawang Manuel Neuer. Kiper timnas Jerman ini memang sigap mengantisipasi tendangan kedua mantan pemain terbaik dunia tersebut. Sementara dua penendang pertama dari kubu Muenchen, David Alaba (pemain muda berusia 19 tahun) dan striker Mario Gomez, sukses melaksanakan tugasnya mencetak gol dengan menipu Iker Casillas.
Sesungguhnya, El Real kembali memiliki asa untuk menang, setelah penendang ketiga (Xabi Alonso) berhasil membobol gawang Neuer; serta Iker Casillas berhasil membaca arah dan mem-blok tendangan dua pemain Muenchen berikutnya, yang masing-masing dieksekusi oleh Toni Kroos dan (Kapten) Philip Lahm. Namun, asa itu sirna tatkala penendang keempat Madrid, Sergio Ramos, melambungkan bola di atas mistar gawang. Akhirnya, dengan keunggulan 3-1 Muenchen pun berhak untuk lolos ke final di Allianz Arena – yang merupakan markasnya sendiri – pada 19 Mei nanti.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebelumnya, Barcelona – sebagai rival abadi Real Madrid – juga berhasil dibekuk oleh Chelsea di Camp Nou dengan agregat 2-3. Dengan dua hasil tersebut maka buyar lah prediksi sebagian besar pengamat dan harapan sebagian besar fans sepakbola untuk menyaksikan final El Classico di Liga Champions musim ini. Hal ini sekaligus menjawab harapan dan prediksi sebagian fans dan beberapa orang skeptis di forum-forum maya mengenai final ideal antara Bayern dan Chelsea.
Cukup menarik untuk diungkap: apa kiranya yang menjadi penyebab dari kegagalan terciptanya final El Classico, karena ini sekali lagi – seolah-olah – mengulang cerita pada musim 2003/2004. Saat itu, yang menjadi favorit adalah tim-tim besar seperti Real Madrid dan Manchester United. Namun, AS Monaco dan FC Porto lah yang melenggang ke final, dimana akhirnya pertandingan itu dimenangkan oleh Porto dengan skor 3-0.
Ada dua hal yang kiranya bisa dijadikan alasan mengapa final "ideal" tidak terjadi di kompetisi semacam Liga Champions. Yang pertama adalah alasan logis, sedangkan yang satunya lagi adalah alasan non-logis.
Kita mulai dari alasan non-logis terlebih dahulu. Banyak pihak yang beranggapan bahwa kekalahan Barcelona atas Chelsea disebabkan oleh faktor luck atau keberuntungan. Dengan begitu banyaknya peluang mencetak gol yang dimentahkan oleh mistar gawang kiper Chelsea, Petr Cech, orang-orang beranggapan bahwa Barca sedang sial. (Saya jadi teringat pada kepercayaan beberapa fans sepakbola: jika bola terlalu sering membentur mistar gawang, maka itu pertanda akan kalah.) Tercatat ada dua tendangan Lionel Messi yang membentur mistar gawang. Pertama adalah saat eksekusi pinalti akibat pelanggarang terhadap Cesc Fabregas, dan kedua adalah saat melepaskan tembakan kaki kiri yang membentur tiang sebelah kiri Petr Cech. Seperti kata komentator pada pertandingan tersebut, “Again, Chelsea (are) being saved by the frame. (Sekali lagi Chelsea terselamatkan oleh mistar).” Mengutip sebuah laman di Goal.com, Francesc Fabregas juga berujar, “Kami bermain lebih baik daripada mereka. Namun, kadang sepakbola itu tidak adil.”
Melihat kekalahan Real Madrid dari Bayern Muenchen, kita juga akan menangkap beberapa aura ketidakberuntungan pada kubu El Real, terutama pada saat terjadinya adu pinalti. Mega bintang seperti Ronaldo dan Kaka’ begitu gampangnya kehilangan peluang untuk mencetak gol dari titik putih. Bagi Ronaldo kegagalan itu menandai akhir dari kesuksesannya menceploskan 25 gol dari titik putih selama musim ini untuk El Real.
Namun, yang lebih menarik adalah bila kita melihat dari sisi entrenador Jose Mourinho. Mourinho punya catatan unik di Liga Champions untuk urusan adu pinalti. Rupanya, The Special One juga pernah gagal sebelumnya kala masih membesut Chelsea. The Blues saat itu ditekuk The Reds di stadion Anfield pada second leg semifinal Liga Champions musim 2006/2007 lewat drama adu pinalti yang berkesudahan 4-1. Jadi, seolah-olah ini adalah kutukan yang berulang bagi sang pelatih. Lagi-lagi aura ketidakberuntungan hinggap di sini.
Akan tetapi, bila kita mengkaji penyebab gagalnya final El Classsico dari sisi logis, maka saya lebih cenderung menuduh faktor ekspektasi (harapan) lah yang menjadi biang keladinya. Mengapa begitu? Kita sama-sama tahu bahwa Barcelona dan Real Madrid – bisa dibilang – adalah dua klub terbaik di dunia saat ini. Pemain-pemain bintang di kedua kubu, seperti Messi; Ronaldo; Xavi; Benzema; Iniesta; Kaka; Fabregas; dan lainnya; selalu mendapatkan ekspektasi atau harapan besar setiap kali bertanding – baik dari kubu fans; pengurus klub; bahkan pengamat sekalipun. Hal itu sedikit banyak memberi beban ekstra di pundak mereka, dibandingkan pemain-pemain dari klub lain yang dianggap underdog. Dari kacamata Messi dan Ronaldo saya melihat bahwa kegagalan mencetak gol apalagi memenangkan pertandingan, merupakan aib yang harus ditanggung dengan cemoohan dan caci maki. Terlebih dengan status mereka sebagai dua pemain terbaik dunia, yang acap kali dibanding-bandingkan dengan legenda macam Pele dan Maradona.
Efek tekanan tersebut terlihat pada saat Barcelona berhadapan dengan Chelsea beberapa hari yang lalu. Lionel Messi terlihat sedikit gugup saat mengambil tendangan pinalti yang dihadiahkan wasit – yang kemudian berujung pada kegagalan. Di akhir pertandingan Messi juga terlihat tertekan (dengan merukuk sambil menutupi kepala dengan kausnya) setelah harus menerima kenyataan bahwa timnya gagal mempertahankan gelar juara.
Melihat eksekusi pinalti yang gagal oleh Ronaldo dan Kaka’ saat berhadapan dengan Muenchen, kita juga bisa merasakan tekanan yang sama ada pada mereka. Ronaldo yang sebelumnya selalu sukses sebanyak 25 kali beruntun menyarangkan bola ke gawang lawan lewat titik putih, kini harus gagal melakukan salah satu "spesialisasi"-nya di sebuah partai dimana seharusnya ia tidak gagal. Sergio Ramos yang sejak awal eksekusi sudah gugup, juga mengekspresikan ketidaksanggupan untuk menanggung beban harapan menang Los Galacticos Jilid Kedua – sehingga berakhir dengan sepakan melambung tinggi di atas mistar gawang.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ekspektasi bisa menaikkan semangat, tetapi di saat yang berbeda juga bisa memberikan beban yang berlebih. Keberuntungan bisa membuat yang diremehkan keluar sebagai juara. Namun, di luar semua itu sepakbola tetap indah untuk disaksikan – siapapun pemenangnya. J

Salam olahraga,
‘Ammar Lelo Andiko, fan sepakbola

Wednesday, April 25, 2012

Jose Mourinho Pelatih Terhebat di Dunia?


(Courtesy of: lif1.com)
Selama semusim terakhir banyak di antara kita yang mungkin memperdebatkan masalah tentang siapakah pelatih sepakbola terbaik di dunia. Apakah Josep Guardiola atau Jose Mourinho? Melihat prestasi mentereng keduanya, sudah pantaslah jika orang-orang menobatkan kedua nama tersebut sebagai yang terhebat sejagad.

Guardiola sukses membesut Azulgrana (julukan FC Barcelona) menjadi sebuah klub tersukses di Eropa dalam – setidaknya – tiga musim terakhir. Anda mungkin masih mengingat betapa perkasanya Lionel Messi dan kawan-kawan pada musim 2008/2009. Enam gelar juara sekaligus berhasil dihimpun dalam satu musim, termasuk tropi La Liga Spanyol; tropi Copa del Rey; dan tropi Liga Champions Benua Biru. Sebuah prestasi fenomenal yang baru pertama kali diukir oleh sebuah klub sepakbola di dunia. Walaupun prestasi itu tidak terulang pada musim 2010/11, Tim Catalan sukses kembali merajai negeri matador, serta menaklukkan tanah Eropa untuk merengkuh tropi Liga Champions yang keempat sepanjang sejarah FC Barcelona. Otomatis pada era Pep Guardiola, Barcelona berhasil merengkuh dua kali tropi kompetisi paling bergengsi antarklub tersebut – yang mana hanya bisa dimenangkan masing-masing sekali oleh Johan Cruyff dan Frank Rijkaard.

Jose Mourinho menandai awal dari kesuksesannya membesut sebuah klub besar, dengan mengantarkan FC Porto menjuarai Liga Portugal; dan – secara mengejutkan – membawa klub itu menjuarai Liga Champions pada musim 2003/2004. Setelah kemudian pindah ke Chelsea, klub London itu disulap Mourinho menjadi  salah satu anggota The Big Four selama kurang lebih empat musim – sebelum akhirnya didepak oleh Si Taipan Minyak Roman Abramovich. Hampir semua tropi berhasil ia kumpulkan di lemari pajang Stamford Brigde, kecuali tropi Liga Champions. Dan, banyak yang yakin bila ia diberi kesempatan semusim lagi oleh Si Pemilik Abramovich, maka gelar itu pun tentu akan didapatkannya.

Perjalanan Mourinho selanjutnya diteruskan di klub Italia, Inter Milan, setelah sebelumnya ia sempat menganggur selama beberapa waktu pasca pemecatan. Dua musim di Italia, Inter berhasil dibawanya meraih Scudetti sebanyak dua kali, serta – yang paling fenomenal – meraih treble winner pada musim 2009/2010. Padahal sejak tahun 1965 Inter tak pernah berhasil lagi merebut tropi sakral tersebut. Terhitung 45 tahun lamanya. Waw! Sebuah jarak yang sangat panjang. Otomatis, The Special One pun menjadi pujaan publik Giuseppe Meazza semenjak saat itu.

Kini Mourinho menukangi klub megabintang Real Madrid. Tercatat, ini adalah musim keduanya bersama Los Galacticos. Dan, hingga saat ini Mourinho sudah berhasil – untuk sementara – membawa El Real pada posisi puncak klasemen La Liga hingga jornada ke-34, serta – untuk sementara pula – membawa klub sembilan kali juara Champions Eropa tersebut ke babak semifinal Liga Champions 2011/12 melawan klub Bavaria, Bayern Muenchen. Dan, klub besutannya masih berpeluang besar untuk lolos ke final, menyusul Chelsea yang telah terlebih dahulu ke final – setelah secara luar biasa berhasil menumbangkan Barcelona.
------------------------------------
Mengulas pertandingan yang baru saja berakhir antara FC Barcelona dan Chelsea yang berlangsung di Camp Nou, orang-orang tentu akan berpikir, “Ada apa dengan Barca?” atau, “Apakah ini akhir dari era Barcelona?” atau pula, “Apakah Pep Guardiola masih merupakan pelatih terbaik di dunia?”
Saya lebih tertarik pada pertanyaan terakhir, karena terkait dengan topik dan pembahasan kita di awal tadi.
Jika Anda menyaksikan pertandingan barusan; yang berakhir imbang 2-2 dimana Chelsea lolos berkat unggul agregat 3-2, niscaya Anda akan menyadari bahwa strategi yang digunakan oleh Roberto Di Matteo (pelatih/caretaker Chelsea) serupa dengan strategi yang digunakan oleh Jose Mourinho beberapa hari yang lalu – saat melakoni laga El Classico. Pada laga tersebut Madrid menang 2-1 dengan memanfaatkan strategi pertahanan rapat dan amat disiplin ala catenaccio Italia, plus serangan balik yang sangat cepat dan efektif. Tidak percaya? Lihat di Youtube video gol kedua yang dicetak oleh Cristiano Ronaldo dengan diawali oleh umpan kelas dunia dari Mesut Ozil! Uniknya, dua gol balasan Chelsea (masing-masing oleh Ramires dan Fernando Torres) berawal dari aksi serangan balik yang serupa.

Jika kita cermati, strategi yang dipakai Di Matteo sangat mirip dengan strategi yang dipakai oleh Mourinho saat El Classico. Dan, jika Anda mengikuti perkembangan berita sebelum laga di Camp Nou tadi, ada indikasi bahwa Mourinho turut berperan dalam meracik strategi guna melumpuhkan Barcelona. Menurut Goal.com, Petr Cech (kiper Chelsea) berkelakar bahwa Mourinho mengadakan semacam rapat rahasia dengan para pemain Chelsea sebelum pertandingan, guna membahas taktik dan strategi membendung Barcelona. Terus terang saja, bagi saya itu bukan sekedar kelakar. Bahkan kabarnya, Mourinho ikut membagi tips kepada asisten pelatih Chelsea tentang bagaimana mengalahkan Barca – seperti yang baru saja ia lakukan pada El Classico. Menurut Goal.com juga, The Special One mengirimkan SMS motivasi kepada pemain-pemain Chelsea seperti John Terry, Frank Lampard, Ashley Cole, dan Didier Drogba. Dan, seperti yang telah kita saksikan, Barcelona berhasil dilumpuhkan di kandang sendiri dengan strategi ala Mourinho tersebut, meskipun telah unggul pemain sejak babak pertama akibat kapten John Terry dikartu merah oleh wasit asal Turki.

Mengulas contoh lain tapi masih dalam contoh serupa, saat pertandingan perempat final antara FC Barcelona dan AC Milan, klub Italia tersebut juga berhasil mengatasi permainan taka tiki ala Messi dkk., baik di San Siro maupun di Camp Nou – walau akhirnya Milan tersingkir juga berkat dua pinalti kontroversial hadiah dari wasit yang diberikan kepada Lionel Messi. Dan, uniknya strategi yang digunakan Milan pun persis dengan strategi yang dibuat oleh Mourinho, dimana sektor pertahanan dibuat begitu disiplin, tanpa memberikan sedikit pun celah bagi para maestro Barca seperti Messi; Xavi; Iniesta; dan Fabregas untuk beraksi di daerah kotak pinalti – sehingga nyaris menyisakan seorang penyerang saja di depan. Saat ada kesempatan memegang kendali, bola langsung diumpan ke depan dengan cepat kepada striker yang seorang itu untuk melancarkan serangan balik yang sangat mematikan. Sangat terlihat bahwa pelatih Milan, Massimiliano Allegri mengadopsi taktik tersebut – yang digunakan Mourinho saat sukses membesut Inter menghadapi Barca.

Saat kita ulas lebih jauh ke belakang; di musim 2009/2010; dimana Inter berhasil merebut treble untuk pertama kalinya bagi klub-klub Italia, kita akan mendapati bahwa saat berhasil menumbangkan Barcelona di Giuseppe Meazza dengan skor 3-1; Mourinho untuk pertama kalinya menandai sebuah trade mark kesuksesan strategi dalam menghadapi sebuah klub superior seperti Barcelona – dimana nyaris seluruh skuad Spanyol yang juara Piala Eropa 2008 dan juara Piala Dunia 2010 berasal dari klub itu. Di sinilah awal kembalinya strategi ala Catenaccio yang puluhan tahun lalu sempat sukses serta menjadi trade mark Italia dan klub-klub sepakbolanya: Catenaccio ala Jose Mourinho. Pun, saat leg kedua di Camp Nou – meskipun kalah 1-0 akibat kartu merah kontroversial yang diberikan kepada Thiago Motta, Inter tetap berhasil mengatasi perlawanan Barca secara keseluruhan; dan melenggang ke final.

Rekam jejak tadi setelah diulas, terutama dari sisi strategi, terasa sangat berbeda. Kita dapati bahwa Jose Mourinho – dengan tiga klub berbeda yang dibesutnya – menjadi sebuah tokoh pembangun pondasi bermain bagi anak-anak asuhnya. Hal itu sangat terasa dan terbukti setelah Mourinho meninggalkan Porto, Chelsea, dan Inter. Setelah The Special One pergi, pondasi permainan yang berubah (dengan pelatih yang baru) membuat klub-klub itu kesulitan untuk kembali kepada peak performance-nya. Lihat saja Inter sekarang!
Chelsea pun demikian adanya sebelum Roberto Di Matteo masuk menjadi careteker (pelatih sementara) pasca dipecatnya Andre Villas Boas – setelah kekalahan memalukan 3-1 di kandang Napoli pada perempat final Liga Champions musim ini. Di Matteo lah yang kemudian mengubah segalanya secara ajaib dengan mengalahkan Napoli 4-1 di Stamford Bridge, yang mengantarkan Chelsea ke semifinal, dan kini berhasil menyingkirkan Barcelona untuk melaju ke babak final. Di Premier League pun Chelsea berhasil “menemukan” form dan permainan terbaiknya. Semua itu berkat kemampuan Di Matteo untuk mengembalikan Chelsea kepada bentuknya yang terdahulu: bentuk di era Mourinho. Dan, itu pun diakui oleh Di Matto sendiri bahwa ia banyak belajar dari mentornya tersebut untuk membentuk kesolidan tim di lapangan dan di kamar ganti. Di samping itu, banyak pihak yang setuju bahwa Chelsea yang sekarang telah kembali seperti Chelsea yang perkasa: seperti pada era The Special One.

Pep Guardiola, meskipun menjadi pelatih tersukses sepanjang sejarah klub Catalan, belum mampu menorehkan hal yang serupa seperti yang ditinggalkan oleh Mourinho di tiga klub besar yang ia tinggalkan. Fakta jelas mengatakan bahwa Pep baru melatih sebuah klub saja, yaitu FC Barcelona. Dan, banyak pihak yang berpendapat bahwa pondasi yang dibawa Pep sekarang ini merupakan warisan dari Frank Rijkaard, pelatih Barca terdahulu yang berhasil memberikan tropi Liga Champions pada musim 2005/2006. Dan, jika Anda seorang penggemar sepakbola yang rajin mengikuti perkembangan Liga Champions sejak awal 2000-an, Anda akan sadari bahwa hal itu benar adanya. Permainan Barca pada era Rijkaard nyaris sama persis dengan era Pep Guardiola, tanpa ada perubahan; kecuali nama-nama para bintang dan para pemain lainnya.
Maka, wajar-wajar sajalah bila banyak fans bola yang menyerukan tantangan: bila Pep ingin diakui sebagai pelatih terbaik di dunia, maka ia harus membuktikannya dengan cara melatih klub lain, seperti Inter atau MU atau bahkan Chelsea (menurut beberapa kabar miring yang ada akhir-akhir ini). Dan, saya kira hal itu wajar dan adil. Pep memang harus membuktikan terlebih dahulu kemampuannya meletakkan pondasi di klub-klub lain, terutama di luar Spanyol, serta membawa klub-klub itu meraih kesuksesan yang sama seperti yang ia lakukan di Barcelona – seperti yang telah dibuktikan oleh Mourinho.

Jadi, wajarlah pula lah jika kita menobatkan Mourinho sebagai pelatih terbaik di dunia saat ini (bukan hanya yang termahal gajinya) – terlepas dari beberapa kontroversi terkait sikap dan omongannya. Omongan yang kasar dan sikap yang cenderung meledak-ledak bagi sebagian orang justru mencerminkan kejujuran dan “keapa-adaan” seorang Jose Mourinho. Di zaman telekomunikasi dan informasi seperti sekarang ini, kadang sulit untuk membedakan antara kekasaran omongan dan kejujuran. Saya pikir kita sudah kenyang mendengarkan omongan lembut tapi penuh tipu daya.

Dan, secara pribadi saya berpendapat, jikalau pun ada pelatih lain yang lebih hebat daripada Mourinho dalam kurun seabad terakhir, dialah Vittorio Pozzo yang membawa Italia juara Piala Dunia dua kali berturut-turut, yakni 1934 dan 1938.

Salam olahraga,
‘Ammar Lelo Andiko, fan sepakbola

Sunday, July 31, 2011

KLUB SEPAKBOLA DENGAN SITUS BERBAHASA INDONESIA


"Wow...! Luar biasa!" Sebagai seorang Interisti atau fan klub sepakbola Internazionale Milan, itulah kata-kata yang dapat saya ujarkan setelah mengetahui page atau halaman baru situs Inter yang berbahasa Indonesia. Ungkapan kegembiraan itu tersampaikan karena hal yang selama ini diharap-harapkan akhirnya datang juga.

Sebelumnya, sudah ada beberapa klub raksasa dunia yang memiliki page khusus berbahasa Indonesia, seperti:

Juventus FC

AC Milan

Official sites berbahasa Indonesia yang dibuat oleh klub-klub raksasa tersebut, membuktikan bahwa Indonesia cukup diperhitungkan dalam jagad sepakbola. Dengan penduduk sekitar 240 juta jiwa, Indonesia merupakan aset besar bagi olahraga terpupuler di dunia ini. 

Saya catat, di Asia Tenggara; selain Indonesia, hanya Thailand yang memiliki official pages pada sites klub-klub raksasa dunia, seperti pada site milik Chelsea. Lazimnya, selain Inggris, bahasa yang digunakan dalam official sites klub-klub tersebut antara lain seperti: Arab, China, Spanyol, Jepang, dan Korea.

Walaupun prestasi sepakbola Indonesia belum se-raksasa jumlah penduduknya, minimal kita dapat berbangga hati karena antusiasme fans sepakbola dari Indonesia  (yang terkenal fanatik) masih diperhitungkan oleh dunia sepakbola internasional. Semoga di masa yang akan datang akan bermunculan lagi official pages berbahasa Indonesia dari raksasa-raksasa sepakbola lainnya! Amin!

Sunday, February 13, 2011

Next Derby of Italy

Courtesy of: 4.bp.blogspot.com
In hours we will watch together the big match between Juventus and Inter Milan. This derby - which is well-known with Derby d'Italia - meets two fierce rivals those have been enemies each other since the very beginning of Italian football rise. The meet between the two teams always give attractive and high tension game. Both's supporters have huge prides for their each team. The loyalty to the club should even often be paid by the blood whenever there was a clash between them. Italian police have to provide tight security for the two team's matches to prevent big and larger anarchy by supporters. 

It's the hottest in Italy. Even hotter than Derby della Madonina, which meets Inter and AC Milan. That's why   That's why the match is called as Derby d'Italia, which means the derby of Italy. That's why this match called as a derby - though most derbies meet two teams in a city.

As an Interisti, of course, I support Inter to win. In a social network site, I read that some people dare Inter to win 2-0 in Juve's home in Turin. I agree with that, and I think that's worthy for Inter today's status. But, you may have different idea - especially if you're a Juventini - related to the previous meetings of the two teams. Inter won 14 times, drew 17 times, and lost 60 times.

Forza Inter!

Thursday, December 23, 2010

Be Champions Again

I just don't know what to say after being so long time to not write on this blog anymore. Today I just wanna say congratulation to Inter's squad, because of their triumph in FIFA 2010 Club World Cup. They're the bests.

Tuesday, August 24, 2010

CAMPIONE AGAIN!

It was incredible!!! I need to say sallute to Internazionale's Squad. They are the best. They proved it by beating AS Roma 3-1 in Giuseppe Meazza Stadium at Saturday Night, August 21th 2010. And, the trophy has completed Inter's this season triumph - after they've got treble winner (Serie A, Coppa Italia, and UEFA Champions League).

There's nothing enough to say. I just wanna give you all this poem to express how ecstatic I am - though I couldn't watch the game live here in Indonesia.

The forth's so sweet tasted
To show what we've always needed
But cupboards are not completed
Before we get them all defeated

Will they still ask about Inter?
They won't do so here and there
One is they have to care
That Inter have been wilder



Sunday, May 23, 2010

INTER THE CHAMPIONS

By: 'Ammar Lelo Andiko


Let them talking bad!
Let them try to make us sad!
Let them satisfied to humiliate!
As Interisti we keep the place we're standing at

They told we're loosers
Actually we're the winners
They said we'd never win
But our passion pays what we've believed in

Though nobody counted us
We never intended to pass
Even there's no one to see
We only wore one jersey

For the time we'd waited
For the honesty we laid
For every emotion that's held
Now, our love is paid



Forza Inter! Winners of UEFA Champions League 2010

Sunday, August 30, 2009

INTER BEAT MILAN 4-0


Inter Milan won Derby della Madoninna against AC Milan in Giuseppe Meazza Stadium at August 29th 2009. It's a record while Inter succeeded to beat Milan last night within 4 goals; without any goal Milan could make. Jose Mourinho's squad would be so glad by this win over Leonardo's side.

Milan's goal kept by Storari was conceded by Thiago Motta, Diego Milito, Douglas Maicon, and Dejan Stankovic. The two Inter's new players (Motta & Milito) did their job well. Meanwhile, Maicon and Stankovic performed superb moves. Samuel Eto'o, the new striker bought from Barcelona, did a great job too, though he failed to make a goal. He succeeded to be a destroyer in order to break Milan's defenders' concentration.

Stankovic himself made a spectacular goal. It was done in a far range: a long distance goal. The ball was kicked by him then placed in the upper left corner of Storari's goal.

After being conceded 4 goals, San Siro was left by many Milanisti. They're completely disappointed for the team's lose. They walked out of the venue before the referee blew the wishtle.

However, it's a great success by Internazionale to beat its fierce rival 4-0. Especially, It's done when Milan was a host. And, it's a great moment that Inter has just begun 2009/2010 season with a good start.

Saturday, August 22, 2009

KAKA', A GOOD EXAMPLE


Football lovers have already known about Ricardo Kaka' indeed. This Brazilian star is a superb performer on the field. Beside it, he's a complete person, with a complete personality. Can you imagine a big star like him with a humble (low profile) attitude, attractive face and body, religious behavior (for Christians), and big talent in football?

Many people may say that he's almost perfect. Why?

We know how glamor the world of football is - esp. outside the stadium. Many stars could not take responsibilities for their behavior in facing temptations. We know the big stars involved in sex cases, like orgy; adultery; rape, etc. Some of them were also involving themselves in drugs and alcohol abuse.

But not with Kaka'. He has succeeded to keep himself on his track. His former team-mate in AC Milan, Gennaro Gattuso, ever stated that one day he and friends invited Kaka' to celebrate an event such as party, looking around, or something like those (I forget the event), but Kaka' preferred praying at his home to the event.

Many women love Kaka' because of his physical attraction, but he has never been tempted to betray his girl - who is his wife now. Caroline has been always in his heart since the first time he started to love her. He was also informed - by a source - as a virgin until his marriage.

What a good man? What a real man? I think it's so difficult to find guys such him today. So, I also think that in many things we can take Kaka' for a good example for present days.

Wednesday, August 19, 2009

DIMULAINYA LIGA CHAMPIONS EROPA


Salah satu even sepakbola terbesar di jagad ini: Liga Champions Eropa, telah dimulai. Para penggemar bola alias gibol tentu sumringah akan hal ini.

Ya!!! Mulai dini hari ini RCTI menayangkan secara eksklusif Liga Champions Eropa musim 2009/2010. Kebetulan, yang saat ini sedang bertanding adalah Glasgow Celtic (Skotlandia) vs Arsenal (Inggris).

Semua gibol tentunya tak sabar untuk menyaksikan pertandingan ini dan pertandingan-pertandingan seru lainnya. Termasuk saya.

Selamat menyaksikan!

Tuesday, August 11, 2009

TAK ADA LIGA SPANYOL UNTUK MUSIM DEPAN?


Saya memperoleh info dari seorang kawan bahwa musim depan RCTI tak akan menayangkan La Liga Primera lagi. Alasannya, siaran La Liga sudah menjadi lebih mahal sehingga - mungkin - RCTI tak lagi mampu untuk membelinya.

Jika memang benar begitu, berarti kita; para gibol; tak akan dapat menyaksikan aksi-aksi dari Kaka', Christiano Ronaldo, Ibrahimovic, dan Karim Benzema untuk musim depan. Sungguh hal yang sangat disayangkan, karena - seperti yang publik ketahui - mereka adalah bintang besar yang meramaikan dan membuat heboh bursa transfer kali ini.

SARANG BINTANG

C. Ronaldo ditransfer dari Manchester United dengan nominal gila-gilaan (lebih dari Rp. 1 triliyun) - yang memecahkan rekor transfer termahal sebelumnya: milik Zinedine Zidane saat ditransfer El Real dari Juventus. Sementara Kaka', juga tak kalah mahalnya. Ia dibeli Real Madrid dari AC Milan dengan harga melebihi Rp. 800 miliar.

El Real juga membeli pemain-pemain tenar lainnya, seperti: Karim Benzema (Lyon - Prancis), Raul Albiol (Valencia - Spanyol), dan Xabi Alonso serta Alvaro Arbeloa (Liverpool - Inggris). Kita tahu bahwa pemain-pemain tersebut merupakan bintang di klubnya masing-masing - bahkan di liganya.

Rival abadi El Real, Barcelona, juga meramaikan penarikan pemain-pemain bintang ke liga Spanyol. Tentu, klub yang satu ini tak ingin kalah saing dari pesaingnya. Mereka membeli Zlatan Ibrahimovic dengan harga sekitar 60 juta Euro. Sementara..., kita juga tahu bahwa Ibra merupakan bintang di Serie A Liga Italia dalam beberapa musim terakhir. Ia bahkan menjadi Cappocanieri alias Top Skor pada musim sebelumnya.

Kenyataan tersebut tentu saja membuat Liga Spanyol - khususnya La Liga Primera - menjadi tempat berkumpulnya para bintang besar masa kini sehingga membuatnya akan menjadi magnet utama dalam dunia sepak bola. Kemungkinan besar, La Liga Primera akan menjadi yang terbaik buat musim depan - mengalahkan popularitas liga Inggris dalam beberapa musim terakhir.

KENYATAAN PAHIT BUAT PENGGEMAR BOLA
Namun, sayang sekali - mengetahui bahwa - para pemirsa TV di Indonesia tak akan lagi dapat menyaksikan aksi-aksi menawan dan terbaik dari para maestro tersebut - hanya karena alasan ekonomi. Hal ini seolah-olah mengulangi peristiwa pada dua musim yang lalu, di mana Liga Primer Inggris tak lagi hadir di layar kaca kita di Indonesia.

Mungkin... solusi terbaik bagi kita adalah berlangganan TV kabel. Bagi anak-anak kos: bisa berembuk dan gotong royong dengan teman-teman untuk membeli dan membayar iuran bulanan dari TV kabel. Bagi warga yang saling bertetangga: bisa berembuk pula dengan tetangganya untuk hal ini. Kalau bisa, adakan rapat RT khusus untuk membahas soal ini! He, he, he! Nanti..., nonton barengnya bisa digelar di pos ronda - sehingga bisa menambah keakraban dan silaturrahim antar warga. He, he, he lagi!

Saturday, August 1, 2009

The Meaning of A Legend


For football world and lovers, the death of Sir Bobby Robson is a nightmare or a bad news they even did not want to hear before. But, a part of lifelines should be past. And, every mankind will be remembered and honored as an unforgettable history. Every step a man made can also be a valuable heritage for descendants. And, the dead man is next to be a lifetime legend.

"Why do we need a legend?" it may be a strange question to ask. But, involuntary we don't realize that we often notify some persons or some public figures to be our hero.

A legend could do things most people just intended on those. So, he would give other people - included us - a power to realize that dreams can come true. Or..., at least he would be the representation of our dreams. "If I were not there, he could be," perhaps this is what we're going to say someday - just so deep inside our soul.

A legend can someday be the power for several fans to strengthen their will & their faith in doing or reaching some objectives which are impossible for the most but not for their legend. Sir Bobby Robson was a kind of that man. He improved the skills of football not only as a player, but also as a coach (manager). His success as a player was completed by superb role as a football manager. It's proven by the noble he has received from British Empire as a Sir.

Jose Mourinho - Inter Milan present manager - told that he learned so many things of football's coaching clinic from Sir Bobby while he was becoming his translator in Barcelona CF. He also stated that Sir Bobby enthusiasm was always being the biggest for football. "The Special One" has become such present day because of Sir Bobby influences and experiences - as a player and even a manager.

A legend gave some people very well examples to reach a success and to believe in the ways that success would come. He could gave the examples not only from the speech, but also from the actions - things most of men could not give. So, without we really know where it will come from, a spirit of a legend will never let us down - if we always remember what he said and did: as long as we love him as a good man to feature.

Those are the reasons why a legend will never be forgotten by us.

Friday, July 3, 2009

WORLD CUP POLL


Hey, Mates! Football or soccer is the largest sport in this world. Every match - esp. big match which meets biggest teams ever - always attracts large abundant of spectators from whole parts of this planet. And..., everything about football will be the centre of attention too, which is interesting to discuss.

Here I've made a polling about which team will take the triumph of next world cup in South Africa. There are some choices those are the classic countries in winning World Cup's trophies, such as:

  • Brazil (recent champion of FIFA Confederation Cup, 5 time World Cup champion);
  • England (one time champion)
  • Germany (three time champ.);
  • Italia (four time champ.); and
  • Argentina (two time champion).

We know they have best players in the world today - who are playing in most famous leagues in Europe. So, they are sufficient to be put on the list. But, if you don't agree with the five choices, you can choose "other team". Happy to poll! I'm waiting for your participation.

Wednesday, July 1, 2009

PSMS OH... PSMS


PSMS Medan harus berlaga di Divisi Utama - kasta kedua Liga Indonesia - mulai musim depan. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Hal itu terjadi setelah PSMS kalah dari Persebaya Surabaya tadi malam (Selasa, 30 Juni 2009).

Padahal PSMS sudah berhasil unggul satu gol hingga menit 80-an. Bisa dibilang asa para suporter PSMS dan hampir seluruh warga Medan untuk tetap menyaksikan tim kesayangannya berlaga di Superliga musim depan, hampir jadi kenyataan. Dan..., tibalah awal dari mimpi buruk itu: Hariri melakukan hand's ball di kotak pinalti sendiri.

Tangannya jelas-jelas diangkat dan menyentuh bola. Kontan saja, wasit langsung memberikan hadiah tendangan pinalti bagi Persebaya. Eksekutor dari Persebaya sukses melaksanakan tugasnya. Skor 1-1. Pertandingan pun terpaksa dilanjutkan dengan perpanjangan waktu 2 x 15 menit.

Selama 2 x 15 menit tersebut sebenarnya sangat banyak peluang PSMS untuk mencetak gol kemenangan. Namun, nasib belum memihak anak-anak Medan. Skor tetap 1-1 hingga wasit meniup peluit panjang.

Adu pinalti diadakan. Zada - eksekutor PSMS yang pertama - gagal menceploskan bola ke gawang Persebaya. Kiper menepisnya. Untung saja, penendang pertama Persebaya pun gagal. Ghali Sudaryono menepis bola tersebut. Para eksekutor berikutnya dari kedua tim - hingga sepakan kelima - berhasil membuat gol sehingga adu pinalti diperpanjang dengan sistem sudden death.

Ketika Octavianus - dari PSMS - gagal melaksanakan tugas, Jairon dari Persebaya sukses. Gol itu membuatnya berlari ke arah tribun penonton. Persebaya menang, dan berhak memperoleh satu tiket untuk berlaga di Superliga musim depan.

Itu sekaligus berarti: fans PSMS tak dapat lagi menyaksikan tim kesayangan mereka di TV untuk musim depan, kecuali PSMS lolos ke fase-fase utama Copa Indonesia. Sungguh hal yang menyakitkan - juga bagi saya yang notabene adalah fan PSMS Medan. Tapi, apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur.

Monday, June 29, 2009

KONTROVERSI SRIWIJAYA FC vs PERSIPURA


Kemarin malam Sriwijaya FC dari Palembang berhasil menjadi juara Copa Dji Sam Soe Indonesia. Namun, sayang kemenangan tersebut dinodai oleh peristiwa walk out (WO) yang dilakukan oleh pemain-pemain dari tim lawan: Persipura dari Jayapura.

Pertandingan pada babak pertama berlangsung relatif lancar, walaupun tensi memanas dan permainan cenderung keras. Skor 0-0 hingga turun minum.

Pada babak kedua Sriwijaya FC berhasil mencetak gol ke gawang Persipura melalui sundulan Obiora, setelah menerima umpan matang yang dilesakkan oleh Nasuha. Gol ini tercipta pada menit 60-an.

Selang tak beberapa lama kemudian, terjadi screamed di area kotak pinalti Sriwijaya. Kiper Sriwijaya FC, Ferry Rotinsulu, menyergap bola yang tengah berada dalam penguasaan salah seorang pemain Persipura sehingga membuat pemain tersebut terjatuh.

Namun, bola yang lepas dari pelukan Ferry jatuh ke kaki pemain Persipura lainnya. Pemain itu pun menendang bola ke arah gawang, dan mengenai tangan kanan salah satu pemain Sriwijaya FC.

Tim Persipura tidak menerima hal ini, karena wasit tidak memberikan hadiah tendangan pinalti untuk tim mereka. Mereka pun mengejar dan memprotes sang pengadil lapangan. Wasit Purwanto - yang memimpin laga tersebut - merasa bahwa keputusannya sudah benar.

Merasa tidak puas, seluruh pemain Persipura dan para official pun meninggalkan lapangan pertandingan. Hanya pelatih Persipura, Jackson F. Tiago; dan salah seorang official yang terlihat masih berada di bench.

Sekitar satu jam lamanya panitia pertandingan dan penonton di Stadion Jaka Baring menunggu pemain-pemain Persipura agar kembali lagi ke lapangan. Sayangnya, hal itu tak pernah terjadi. Maka, sesuai peraturan FIFA: tim yang WO dinyatakan kalah. Dan, Sriwijaya FC pun menang.

Padahal, andaikata para pemain Persipura mampu berkepala dingin; berpikir lebih bijaksana; dan bersikap lebih profesional, hal itu tak perlu terjadi. Sisa pertandingan masih cukup panjang: sekitar 20-an menit. Mereka masih punya peluang cukup besar untuk mengejar ketertinggalan 0-1 bahkan membalikkan keadaan dengan memenangkan pertandingan.

Terlepas dari kontroversi terhadap kepemimpinan wasit, semestinya pihak Persipura lebih profesional, sebab hal semacam itu tak hanya terjadi di dalam negeri. Sebagai contoh: beberapa jam setelah pertandingan tersebut, ada pertandingan final FIFA Confederation Cup antara Amerika Serikat dan Brazil.

Brazil tertinggal lebih dulu 2-0 di babak pertama. Baru di awal babak kedua Brazil mampu menceploskan gol pertama mereka pada pertandingan besar itu. Kaka' beberapa saat kemudian pun berhasil mencetak gol kedua yang bisa menyamakan kedudukan. Tapi sayang, wasit tidak menganggap itu sebagai gol - walaupun jelas-jelas pada tayangan ulang, itu adalah gol. Protes pun dilakukan, tapi wasit tetap pada keputusannya. Para pemain Brazil tentu saja kecewa.

Akan tetapi, Kaka' dan pemain Brazil lainnya tetap profesional dan berkepala dingin. Mereka kembali - dengan normal - melanjutkan pertandingan. Dan, buah manis dari kesabaran akhirnya mereka rengkuh beberapa menit kemudian, melalui gol Luis Fabiano. Bahkan, Brazil berhasil menyudahi laga tersebut dengan kemenangan, setelah sang kapten; Lucio; mencetak gol ketiga bagi Brazil.

Jika mau, pada saat gol Kaka' dianulir, Brazil juga bisa WO seperti yang dilakukan oleh Persipura. Namun, mereka tahu dan paham bahwa menuruti emosi bisa membuat mereka jadi tak profesional. Yang akhirnya justru akan merugikan diri mereka sendiri.

Salut buat Brazil!!!


BRAZIL'S DESERVE WIN


Brazil has won FIFA World Confederation Cup after beating USA 3-2 in final match. There is no word to describe Brazil squad's win, except: incredible.

Brazil was left first. US showed an impressive play by leading 2-0 in the first half. US' first goal was made by Dempsey on a fast break. Brazil defense again failed to overcome US' next counter attack, so Landon Donovan was able to make second goal by using his left foot.

Brazil side's manager, Dunga, changed the tactic. Then, Brazil played more impressive in the second half. Luis Fabiano scored the first goal for Brazil in the match on the very early minute of second half. Wonderful Kaka' succeeded to escape from US' players marking. He made the next goal. But, it wouldn't count - eventhough the ball already passed the bar - because Tim Howard blocked it away, and both referee and linesman didn't see the ball in.

Brazil found its confident back. They practised unstop attacking play then. Finally, Luis Fabiano headed the ball to Tim Howard's goal after a screamed situation in US' penalty box. And, it's a goal - 2-2.

Brazil's captain, Lucio, scored the third goal for Brazil with a strong header after receiving a corner kick pass from Elano. He became the hero for Brazil's win. But, overall, Kaka' became man of the match, not only for this game; but for almost all games. He has brought Brazil into the Champions of FIFA World Confederation Cup 2009.

Sunday, June 14, 2009

VALENTINO ROSSI, LUAR BIASA!


Tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan kehebatan seorang Valentino Rossi, selain: LUAR BIASA, jika Teman-teman menyaksikan balapan MotoGP seri Catalunya malam ini.

Bayangkan! Rossi saling menyalip dengan Jorge Lorenzo - pembalap tuan rumah. Sementara Casey Stoner yang berada pada posisi ketiga, jauh tertinggal di belakang mereka berdua. Rossi kalah di track lurus oleh Lorenzo. Kelihatan sekali, Rossi kesulitan untuk menjaga posisinya di depan ketika melewati bagian yang lurus sehingga Lorenzo beberapa kali berhasil menyalipnya.

Namun sekali lagi, pengalaman delapan kali juara dunia, dan skill yang mumpuni membuktikan bahwa Rossi tetap yang terbaik. Ia berhasil finish di urutan pertama setelah menyalip Lorenzo di tikungan terakhir.

Viva Rossi!


Sunday, May 24, 2009

Internazionale Milano



Internazionale Milano or well-known as Inter Milan is a football team established at 9 March 1908. It belongs to Milan, the mode city of Italy. The name "Inter" was taken by founding members as the sign that they hoped the club will accept players internationally from around the world as well as Italians. Its basic jersey consists of black and blue (Nerazzuri in Italian Language). It's why the team often called "Nerazzuri". Inter's first captain was Hernst Manktl - a Switzerland player.

Inter have won 17 scudetti at 1909/10, 1919/20, 1929/30, 1937/38, 1939/40, 1952/53, 1953/54, 1962/63, 1964/65, 1965/66, 1970/71, 1979/80, 1988/89, 2005/06, 2006/07, 2007/08, ,2008/09. The latests are the 4 time consecutive champion from 2005/06 to 2008/09 after 17 years struggling against their fierce rivals such as Milan and Juventus. Inter have also won UEFA Champions Cup (former UEFA Champions League) twice at 1963/64 and 1964/65. This time was the beginning of Inter's Great Era. And, at the same time Inter also won Intercontinental Cup at 1964 and 1965. Beside them all, Inter have also won Italian Cup (Coppa Italia) 5 times, Italian Super Cup 4 times, and UEFA Cup 3 times.