Showing posts with label Sosmas. Show all posts
Showing posts with label Sosmas. Show all posts

Monday, February 14, 2011

What is The Essence of Valentine's Day (for You)?

What is the essence of Valentine's Day for you?
I think, that is an interesting question somebody can ask to you - especially if we connect it to the nearest event.

February 14th is celebrated annually by people around the world, especially by the couples who are falling in love each other. It's such an obligation to send chocolate or a bucket of flowers to your spouse or lover. Obligatory, it's also a thing to do to have a candle light dinner together, and then lasted by a romantic date - whole night long.

Aha! Is it just that's all like? No, I think! In my opinion, Valentine's Day is not just about loving and staying all night long with your lover. But, it's larger. It has biggest aspect it can have - as long as still related to all about love and affection. So? You can share your affection, attention, and also love to everybody needing, to each member of your big family, to your neighbors, to your partners and/or relations, to the orphans, to the homeless people, to the beggar, to the poor, and even to your enemy or fierce rivals.

As long as you can celebrate the day with that, you succeed to celebrate Valentine's Day or Day of Affection.   

Saturday, August 28, 2010

KEY IN RELATIONSHIP

If you ask about what is the key to hold and remain a relationship, you will find lots of answers and reasons. But, if you were ever involved in such situation - where you had to keep your relationship on the true line - you might believe that "trust " was the most important key.

In business, we can make an example that is quite simple. If want to buy manggoes from a dept. store, you have to know the quality of those fruits you are staring. The problem is that you cannot and may not see or check it through the fruits. It's impossible whether you want to husk them except you buy them.

So, you have to trust that the manggoes are good, relied on your eyes only - and maybe experiences you've got about manggoes. The condition should be two only. If you trust, you'll buy the manggoes. Vice verse, if you don't trust, you won't buy them.

It's that simple in a relationship - whatever it's formed: within your closest friend, spouse, even your customers or partners. By knowing and being conscious about it, you've got only one thing to do.
It's to keep your trust and your accompanies' trust.
The next question is how. You might have found these made:

  1. Never lie though you're scare that you will loose advantages or opportunities! Always remember that your biggest advantage or opportunity is other's trust!
  2. Never underestimate your accompany's trust it's given to you! Somebody often does such thing without realizing that without giving the equal treatment we'll never get a harmony in a good relationship or teamwork.
  3. Never loose your quality! If you've already had a quality - it's loved by your accompanies - please never let it down! Even, you need to make it standarized.
The three things are simple to remember, but you need a little bit hard effort and confidence to do so. Happy trying, and good luck!

Saturday, December 12, 2009

PUBLIC'S ENEMY NO. 1

What is the public's enemy no. 1? Is there someone of you who can guess it?
........................
Yes! If you answer "corruption", it's going to be right.

Why???

Here are the reasons why we can tell corruption as public's enemy no. 1.

First
Corruption is amoral attitude - while we see it from positive law, even from religious view. A grafter will be seen as a villain in the eyes of most people.

Second
Corruption is similar to stealing other people's rights. So, it will give the disadvantages to some people surely.

Third
Corruption is not only able to damage one side, but also many sides. It can break social structure and system. It brings domino's effect in a long period. So, it potentially makes society collapsed. Many countries or nations had ever felt this situation.

Fourth
Corruption will not break physical structures only, but also mental structures. In a corrupt country, the judges; police; and other law enforcement agents, have a big potency to be dishonest, non-dedicated persons. If there's no leader to be trusted, people will act as they like (in law or not).

Fifth
A corrupt country will lose its legitimation. If this situation's happened to the government or executive side, step by step the country will be collapsed.

Sixth
Corruption take the chances of a nation to develop and to raise, because in a corrupt government; there are no free education, health care, or other basic needs for citizens.


Last
However, corruption will attack the actors at last - soon or later. If you do the right thing, it will come to you; and vice verse. Take a look around the grafter's hood or family! Is it good - in a real meaning?

So, will we still be interested to be corrupt persons?


Wednesday, August 26, 2009

PEREMPUAN DALAM MEMILIH LAKI-LAKI


Setiap orang berharap agar dirinya mendapatkan cinta sejati: pasangan yang sungguh-sungguh menyayanginya, setia padanya, dan jujur padanya. Terlebih-lebih perempuan: mereka amat mendambakan sosok pria yang perfect.

Namun, dalam kenyataan perempuan sering merasa salah pilih. Yang didapat justru seorang playboy - yang selama ini hanya memanfaatkan dirinya.

"Padahal aku sudah berikan semuanya padanya: hatiku, cintaku, harapanku, bahkan kesucianku. Tapi..., kini ku ditinggalnya begitu saja. Dia pergi dengan cewek lain setelah puas dan bosan denganku." Terlalu sering kita dengar curahan hati yang seperti ini. Yang dirasakan memang hanya penyesalan.

Seorang perempuan biasanya akan hancur setelah mengalami semua hal seperti itu - terlebih-lebih karena ia telah kehilangan kehormatannya, yang selama ini ia jaga dan hanya akan ia berikan kepada orang yang ia percaya/suami.

Lalu..., apakah benar "Sang Penjahat" adalah si lelaki? May... (May be yes & may be no)


Bisa saja hal seperti itu terjadi karena si perempuan sama bejat/rusak-nya dengan si lelaki. Ingat: "Pria baik-baik hanya untuk perempuan baik-baik, dan sebaliknya."
Perempuan - terutama yang beredar pada masa kini - cenderung banyak salah jalan alias salah pilih. Mereka mengidam-idamkan seorang lelaki yang perfect (ganteng, macho, kaya, baik hati, setia, mapan, bertanggung jawab, dll.), namun cenderung memilih kriteria mapan/kaya sebagai alat untuk mengambil keputusan.

Contoh kasus:

Seorang wanita super cantik nan banyak jadi idola; bernama Sisi, disukai oleh cowok bernama Andi. Si Andi sungguh-sungguh dan tulus mencintai Sisi. (
Wong dikejar terus sampai bertahun-tahun, sampai harga dirinya hilang di hadapan teman-teman. He, he, he...!)

Ternyata eh... ternyata, Sisi memilih cowok lain (Sebut saja: Cobin!) karena dia lebih
tajir. Cobin. Kalau apel, bawaannya Mercy S-Class keluaran terbaru. Kalau makan, perginya ke restoran sushi. Kalau belanja, nggak tanggung-tanggung: Si Sisi dibelikan barang satu toko. Bapaknya pejabat teras salah satu BUMN ternama - walau mungkin sedang diperiksa KPK karena kasus korupsi. Kuliahnya di universitas mentereng - fakultas kedokteran pula.

Semua itu dimanfaatkan dengan baik oleh Cobin untuk menggaet Sisi. Dan ia berhasil.
Sisi merasa sudah memilih pasangan yang pas buatnya. Walaupun Cobin tak begitu tampan alias biasa-biasa saja (atau mungkin malah pas-pasan), Sisi percaya bahwa Cobin lah soulmate-nya; orang yang bakal bersedia menjadi suaminya; dan calon bapak dari anak-anaknya - yang bisa ia bangga-banggakan pada keluarga dan teman.

Waktu pun berlalu. Mereka berdua (Sisi & Cobin) sudah sangat dekat - bak pasutri. Sisi hamil ternyata. Ia panik, tapi berharap sangat bahwa Cobin akan bertanggung jawab: segera menikahinya. Sayang seribu sayang, setelah melontarkan beribu janji manis, Cobin menghilang ditelan bumi. Batang hidungnya tak lagi tampak. E...eh! Giliran nongol, dia sudah bersama "gandengan baru" yang lebih aduhai.

Sisi kecewa bukan kepalang. Ia stres berat. Ingin saja rasanya bunuh diri. Lalu, ia ingat akan Andi - yang dulu ia acuhkan, ejek, hina, dan campakkan. (Padahal, Andi tampan dan baik hati - cerdas pula. Kekurangannya hanya dari sisi materi.)

Namun..., nasi sudah jadi bubur bagi Sisi. Ia tak berani lagi mengharapkan Andi.
Tinggallah ia merana seorang diri.

Contoh kasus lagi:


Ada seorang kembang desa yang luar biasa ayu. "Uaaayuuu polll, Rek!" kata orang Surabaya. Cewek ini berharap akan ada seorang pria
perfect yang datang "menjemputnya." Semua lelaki yang berniat baik (datang melamarnya), ia tolak mentah-mentah. Padahal, ada seorang lelaki tampan, pintar, berbakat, dan baik hati di antara para pelamar itu - yang tulus mencintainya. Lelaki itu "tak cukup" baginya.

Asanya yang tinggi akhirnya benar membawanya kepada seorang pria tampan, gagah, bangsawan, dan kaya. Ia pun menikah dengan pria tersebut.

Tahun demi tahun berlalu. Mereka belum juga dikarunia seorang anak. Rumah tangga mereka mulai dicekoki dengan pertengkaran - hingga suaranya mengganggu para tetangga. KDRT yang kerap dilakukan oleh sang suami pada saat mereka berselisih, membuat Si Eks Kembang Desa memilih bercerai. Si lelaki perfect itu ternyata tak benar-benar mencintainya. Ia tak bertanggung jawab atas cinta yang pernah dulu ia ikrarkan.

Kemudian, sempat pula Eks Kembang Desa bertemu dengan salah seorang penggemar lamanya. Pria yang pernah sungguh mencintainya ini, rupanya masih mengharapkannya. Sayang, ia sudah berkeluarga.

Namun, mereka (Eks Kembang Desa & Eks Penggemar) tetap nekad kawin/bernikah diam-diam.
Lambat laun..., petualangan penuh aral bahaya yang nekad mereka lalui, akhirnya berakhir juga. Faktor penentangan dari keluarga Eks Kembang Desa dan istri Eks Penggemar, ditenggarai menjadi penyebab perpisahan mereka.

Si Eks Kembang Desa kembali sendiri. Dan..., kini di usianya yang telah lanjut dirinya mulai sakit parah. Gagal ginjal mendera - yang membuatnya terpaksa pulang pergi Padang-Batusangkar untuk berobat. Gaji pensiunnya banyak habis untuk berobat.


Sementara itu, rumahnya yang besar terpaksa ia tinggalkan, sebab tak ada yang menemaninya lagi di sana: tak ada anak; tak ada suami di hari tuanya.

Dengan tetesan air mata, terpaksa ia menuju ke panti jompo.


Contoh kasus satu lagi:

Saya punya seorang dosen perempuan. Sebut saja Bu NAM!
Bu NAM masih saja single alias belum berkeluarga di usianya yang sudah lanjut. Padahal, kalau diperhatikan dengan seksama, masih tersisa garis-garis kecantikan - masa muda - pada wajahnya.

Nah! Menurut cerita: rupanya dia ini - kemungkinan - terlalu pilih-pilih dalam mengambil pasangan - sehingga tanpa terasa waktu menggerus usianya.


Saya pikir alasan itu masuk akal. Terlihat dari keseharian Bu NAM di kampus. Ia cenderung terlalu
perfectionist: suka cari-cari kekurangan orang lain. Dengan statusnya yang berpendidikan tinggi (sudah S2), mungkin saja Bu NAM mengharapkan seorang pria eksklusif - ketika itu.

Namun sekarang, usianya sudah terlalu tua. Kepala empat - bahkan lima - mungkin. Jika saya amati, dia kemungkinan besar sudah memasuki usia
menopause - di mana tidak mungkin lagi seorang wanita untuk melahirkan. (Kecuali Tuhan memberikan keajaiban.)

Kini... wajahnya tampak sering murung bila sendiri, dan cenderung sangar - sehingga ia menjadi dosen killer di kalangan mahasiswa elektro.

Eh..., ada lagi contoh kasusnya:

Saya mengenal seorang tante. Sebut saja: IK!

IK pada usia mudanya dulu mengidamkan seorang suami yang mapan. Terlebih, selama ini ia hidup menderita, karena dilahirkan dalam keluarga yang susah.

Ia tergolong cantik - sehingga banyak "kumbang" yang berusaha untuk mendekatinya. Tersebutlah ada seorang pemuda keturunan Arab yang menaksir IK. Ia cinta mati pada IK. (Bahkan, hingga akhir hanyatnya - menurut penuturan IK - Si Arab tidak menikah demi IK.)

Sayangnya, IK tidak sudi menerima Si Arab. Padahal pemuda ini tampan, dan punya usaha mandiri. IK lebih memilih menerima pinangan dari seorang pegawai PT POS - yang kalah tampan dibandingkan Si Arab - namun memiliki jaminan hidup yang lebih baik (menurutnya).

Mungkin dalam pemikiran IK: pegawai negeri; anggota TNI/Polri; atau pegawai kantoran lebih memiliki masa depan yang cerah - terutama dengan adanya jaminan hari tua, yakni berupa uang pensiun.

Namun, setelah tahun demi tahun berjalan, yang terjadi justru di luar dugaan IK. Uang pensiun suaminya - yang lebih tua 10 tahun darinya - sama sekali tak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga: ia; suami; dan dua anak. Terpaksa, ia berjualan bakso di pasar Kepanjen - Kab. Malang.

Ia rintis dan lakukan itu sendiri, mengingat suaminya tengah sakit-sakitan kala itu.

Akhirnya..., jauh panggang dari api. Niatnya dulu yang hendak hidup enak; dan mudah, kini malah berkebalikan. Saat suaminya pensiun, ia justru harus repot-repot jadi tulang punggung keluarga.

Namun, yang saya herankan: visi materialis-nya masih belum juga berubah setelah pengalaman itu. Ck, ck, ck...!


Tiga kisah terakhir adalah nyata. Sementara kisah pertama adalah semi fiksi alias semi-nyata.

Walau bagaimana pun (nyata atau tidak menurut Anda), fenomena tersebut memang marak di kalangan perempuan. Perhatikan saja! Banyak cewek cantik yang jalan dengan cowok - maaf - jelek, hanya karena dia kaya. Padahal, kemungkinan besar dia hanya mau tubuh itu cewek. (Saya sering mendengar langsung pengakuan seperti itu dari teman-teman cowok yang hanya ingin having fun.)

Sementara..., banyak cowok yang tulus dan berniat baik, dicampakkan; diremehkan; dan diacuhkan begitu saja - hanya karena mereka dianggap tak bermodal oleh para cewek. Padahal tak jarang dari mereka itu yang tampan; cerdas; alim; dan punya track record bagus.

Kenyataan-kenyataan tersebut berulang kali membuktikan bahwa rata-rata cewek menjadikan "materi" sebagai pertimbangan utama untuk memilih cowok/pasangannya. Walaupun alasan fisik/ketampanan; kesetiaan; dan kejujuran, masih dipertimbangan.

Kesimpulannya: meskipun si cowok cakep; setia; sungguh-sungguh; pintar; dan bertanggung jawab, jika dari sisi materi ia mentok/kalah; ia akan ditolak.

Cewek biasanya akan menjadikan masa depan, gengsi, dan jaminan hidup sebagai alasannya menjadi demikian.

Namun..., bagaimana pun juga: bila harapan utama kita adalah cinta, maka cinta yang akan kita dapatkan. Bila harapan utama kita adalah harta (jaminan materi), maka harta pula yang akan kita dapatkan - yang tak jarang membawa banyak perempuan pada rasa kecewa.

Ibarat kata pepatah, "Siapa menanam, dia akan mengetam."



PS: Wahai Para Perempuan! Janganlah marah pada lelaki - apalagi sampai jadi lesbi - karena Dikau salah pilih! Ingat kata Bang Meggy, "Tidak semua laki-laki..."He, he, he...~! Lelaki baik hanya untuk perempuan baik, dan sebaliknya.

Demi Tuhan, saya paparkan ini untuk Anda, Wahai Para Perempuan - sebagai wujud keprihatinan saya terhadap visi banyak perempuan masa kini. Agar visi itu lurus, agar Anda tak salah pilih, agar Anda tak lagi menyesali diri.

Tak ada niat untuk menjelek-jelekkan orang tertentu. Pelbagai peristiwa hanya merupakan contoh.

Semoga Allah Yang Maha Pengasih memaafkan segala kekurangan saya! Amiin!

Friday, August 14, 2009

MAKNA SEBUAH KEMERDEKAAN


Tujuh belas Agustus enam puluh empat tahun yang lalu bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya - melalui dua tokoh pemuda bangsa: Soekarno-Hatta. Selama enam puluh empat tahun itu apa yang sudah didapat dan diraih oleh bangsa ini?

Sekedar kilas balik, Indonesia lepas dari belenggu penjajahan selama 350 tahun yang dilakukan Belanda, setelah Jepang menginvasi Nusantara. Namun, nasib Indonesia selanjutnya bak jatuh dari mulut harimau ke mulut buaya: kita tetap terjajah. Bahkan, menurut penuturan kakek nenek kita, penjajahan Jepang jauh lebih kejam - walau hanya dilakukan dalam 3,5 tahun.

Jepang berhasil dilibas oleh Sekutu beberapa tahun setelah pendudukannya di negara-negara Asia Timur Raya, seperti Indonesia, China, Myanmar, dan Filipina. Jenderal Douglas McArthur menjadi pahlawan bagi pasukan Amerika Serikat di darat. Sementara Laksamana Nimitz berhasil melumpuhkan pasukan Laksamana Yamamoto di Samudera Pasifik. Kekalahan telak Jepang ditandai dengan penjatuhan bom atom di Nagasaki & Hiroshima.

Indonesia memanfaatkan betul kekosongan yang ditinggalkan oleh Jepang yang kalah perang. Para pemuda pun mendorong Soekarno-Hatta untuk segera membacakan teks proklamasi. Indonesia pun merdeka. Jadi..., ini benar-benar suatu berkah yang amat luar biasa yang diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Indonesia.

Bayangkan saja! Indonesia tidak pernah benar-benar berhasil mengusir penjajah dari Nusantara. Portugis & Spanyol diusir Belanda. Belanda yang hanya sebuah negara kecil di Eropa - yang bahkan juga tengah dijajah oleh Napoleon, Prancis - hanya mampu diusir oleh Jepang. Jepang pun ditaklukkan oleh Sekutu. Jadi..., kekosongan yang ditinggalkan oleh penguasa dari Jepang, benarlah sebuah rahmat dari Allah SWT.

Itu terbukti dan disadari betul oleh para pejuang kita pada saat itu. Lihat saja apa yang mereka tulis di Preambule UUD 1945!
"Atas berkat rahmat Allah SWT..."
bukan
"Atas perjuangan heroik pasukan Indonesia..."
Mengapa bunyinya seperti itu?

Karena kita memang nyaris tak pernah menang perang. Yang dimenangkan oleh Imam Bonjol, Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Pattimura dan lain-lain hanyalah pertempuran-pertempuran di tempatnya masing-masing. Secara total, bangsa Indonesia tak pernah mampu mengalahkan penjajah dan mengusir sendiri para imperialis itu. Lihat saja! Belanda - kemudian - selalu berhasil memadamkan perlawanan dari para pahlawan tersebut.

Lalu, apa sebenarnya yang diharapkan oleh Tuhan dari kemerdekaan yang telah Ia anugerahkan kepada kita ini?

Tentu saja kepatuhan dan ketaatan kepada-Nya. Ia ingin melihat sejauh mana bangsa ini bersyukur atas kemerdekaan yang telah Ia berikan.

Namun, apa yang terjadi?

Bangsa ini sepertinya masih belum menyadari keinginan Tuhan tersebut. Masyarakat kita bahkan cenderung kufur nikmat. Lihat saja apa yang terjadi!

  • Pancasila & UUD 1945 dijadikan berhala
  • Kepemimpinan & ketatanegaraan lebih memilih cara-cara sekuler dibandingkan jalan Tuhan - hanya dengan sebuah alasan "kemajemukan"
  • Penguasa-penguasa dikultuskan lebih daripada seorang nabi - bahkan Tuhan
  • Budaya latah/meniru keburukan bangsa lain - yang dianggap sebagai style - terus dipelihara
  • Materialisme lebih diagung-agungkan daripada kejujuran
  • Orang-orang beriman dikhianati dan dimusuhi: dipandang sebelah mata dan dihinakan
  • dll
Lihatlah akibatnya!
  • Indonesia yang terus tertinggal - bahkan oleh negara-negara tetangga yang belakangan merdeka - akibat terlalu sibuk dengan dasar & perundang-undangan yang tak mampu memberikan perlindungan & kesejahteraan kepada masyarakat kecil, dan tak punya kekuatan untuk membasmi koruptor
  • penguasa-penguasa Indonesia yang terus membohongi rakyatnya sendiri
  • perubahan budaya bangsa - yang santun menjadi urakan dan tak berkarakter positif
  • korupsi dan penipuan yang merajalela - demi kekayaan dan kesenangan pribadi
  • tergadainya kekayaan alam bangsa ini kepada bangsa lain
  • bencana alam yang sering terjadi
  • kemiskinan, pengangguran, dan kebodohan yang semakin menjadi
  • pendidikan yang dikomersialisasi
  • dll - yang terlampau banyak untuk dipaparkan.
Semua poin terakhir adalah wujud dari kemurkaan Tuhan terhadap bangsa yang tak tahu untung, yang kufur nikmat. Diberi kekayaan yang melimpah dan kemerdekaan untuk mengelolanya, malah dibalas dengan pengkhianatan: lebih memilih jalan manusia daripada jalan Allah SWT.

Aneh sekali: bangsa yang mayoritas mengaku Islam, lebih sekuler daripada USA dan Turki, lebih liberal daripada Eropa. Ajaran Tuhan hanya berlaku sebatas KTP, dan forum-forum agamis. Bak kata orang, "Shalat iya, korupsi jalan terus..."

Setelah tahu dan mengaku kalau Tuhan lah yang memerdekakan kita, mengapa tidak memilih jalan-Nya???

Apakah memilih jalan lain adalah hal yang logis untuk bersyukur???

Dua pertanyaan tersebut sangat sederhana, namun jawaban logisnya amat sulit dipraktikkan oleh bangsa ini. Kemungkinan besar jawabannya akan sama seperti yang biasa dilontarkan orang, "Kita kan negara majemuk, yang terdiri dari berbagai suku; bangsa; agama; dan golongan. Ya, nggak mungkinlah begitu."

Apa iya tak mungkin??? Atau..., sebenarnya tak mau, takut sama hukum/aturan Tuhan??? Atau menganggap-Nya remeh, omong kosong???

Pantas saja bangsa ini seperti dikutuk terus: dihinakan oleh Tuhan - juga oleh bangsa lain. Dijarah terus, disiksa terus, dijajah terus.
Sampai kapan???

Sampai kita tahu benar dan mau melaksanakan makna kemerdekaan itu.

Thursday, July 16, 2009

THE REAL TERRORISTS


Bombers and/or suicide bombers are often hated by many people in this world because of their massive destruction and killing actions. Many innocent people had been becoming the victims. It's why their action has been worried.

But, do you ever know and realize that there is another kind of terrorist in this beautiful earth? It's a corruptor. It's a kind of man who is a real terrorist. "Why?" It's the big question.

Corruptors steal public's fund/money which would be used for common wealth. So, imagine whether the fund does not exist! There will be no wealth. The impacts are:
  • expansion of poverty and famine
  • the lag of establishment
  • the degradation of education and man quality/qualification
  • the weak law enforcement
If we analyze much further, we're gonna find out that corruption is much more dangerous than physical attack such bombing. Bombing is completely dangerous, but corruptors are much more dangerous. Corruption's impacts are not seen on the surface directly, but it will kill more people - because of no food; no nutrition; no health quality; and others.

In third world countries which popular with their corruption culture; like Indonesia, corruption is the main reason why the government failed to serve citizens as well as it should be. Corruption has become the reason why a nation has a big dependence to abroad's loan. And, the government will never be able to pay it.

Corruption is also the main factor that caused collapsed social structure, where the mentality of nation's youngsters fell down. There is no spirit to work hard. There is no self confidence to enlarge practice the creativity. They become more consumptive than they should be. They become snobbish, where they will see everything just from its physical attraction. If these all were happened, where will we bring the future of nation? Who will lead the nation in the future? And, can the nation exist for the next decade?

So, the conclusion is that the corruptors are the real terrorists. They deserve to be hung twice.

Monday, July 6, 2009

PRIA IDAMAN WANITA

Mungkin Anda menyangka bahwa pria idaman wanita adalah yang:

* kaya, dan/atau
* tampan

Awalnya saya juga menilai bahwa kedua faktor tersebut adalah mutlak. Namun, saya terkejut dan agak berubah mind set setelah membaca sebuah artikel di internet - mengenai pria idaman para wanita.

Ternyata, menurut sebuah penelitian alias riset, sebagian besar wanita cenderung tidak akan memilih pasangan hidup berdasarkan dua kriteria tadi. (Terdengar sangat tidak masuk akal, kan?)

Mengapa?

Nah! Ini dia penyebabnya:

  • Wanita takut memilih pria kaya sebagai pendamping hidup, karena pria jenis ini cenderung punya akses yang sangat mudah untuk berselingkuh. Ya...! Anda tahu sendiri lah: ada uang, ada barang.
  • Wanita juga takut memilih pria tampan sebagai teman hidup, karena pria dari golongan ini atraktif (memiliki daya pikat yang cukup kuat untuk menarik perhatian lawan jenis) sehingga juga rentan terpeleset oleh perselingkuhan - apalagi kalau imannya tak kuat. (Teman saya sering protes mengenai hal ini, "Bang! Imannya sih kuat, tapi Imran-nya yang nggak kuat." - He, he...! Bisa saja.)

Lalu..., pria seperti apa dong yang dimaui atau diidamkan oleh kebanyakan kaum Hawa?

Jawabannya: kebanyakan wanita akan lebih memilih pria "yang sedang-sedang saja, oh... yang sedang-sedang saja..." - kayak lagu Si Iwan.

Nah...! Itu dia masalahnya. Buat pria ngguuuanteeeng kayak saya ini. Cukup sulit untuk mendapatkan pacar - apalagi teman hidup. He, he! Sebabnya...? Karena saya: ngguuuanteeeng, Saudara-saudara ! Alhamdulillah!!! Tuhan Maha Adil.



PS: Buat Saudara-saudaraku yang lanang lan ngguanteng, mulai sekarang kurangilah kegantengan Anda itu sedikit! Ngg..., agar supaya memudahkan Anda daripada ngg... memperoleh daripada yang namanya cewek. He, he, he...!

Wednesday, June 17, 2009

Poverty (Do You Care?)


Someday when you past a road or a boulevard, perhaps this kind of sight were seen by you. Did you feel something? Were you shaken by it?

People in whole world really know about it. Poverty is maybe familiar for them. Even, they or we are surrounded by such reality everyday. Poor people are our neighbors.

But, do we care? Will we care? Or, we just act like it's an usual thing. If we see the headline of newspaper on left, there will be several reaction.
  • Somebody will be shocked, and
  • somebody else will argue that it's usual.
The numbers of dying poor people are very large. Even, larger and larger everyday. Poverty has come in many reasons. But, should we become careless? Will we just let them down away? Should we pass these people every morning or every afternoon by our cars without any attention? Are we that cruel?

Remember: these poor people are our brothers and sisters too! Genetically proven, we have the same bloodline with them under our skins. And, they need our attention, our affection, our action. Never have any suspicious mind on them - moreover - hate them, whether they beg you a few pence through your car's window! That's cruel, really cruel, even a criminal treat. How do we feel if we're treated like that by others?

Though just a little bit, we can help them. If every person in this world has a little act for poor people, poverty will be overcome. Its spread can be stopped. If we can't fulfill something they need, just give them a smile - not a fake smile! Lift their souls up!

If we love them, God will love us too.
If we care of them, God will care about us too.
If we help them, God will help us too.
We need each other. That's the intention God created us: too see our love on earth.


Monday, June 15, 2009

CINTA SEJATI



Apa makna cinta sejati? Mungkin banyak orang - termasuk Anda - menanyakan hal tersebut. Terutama bagi yang tengah dimabuk cinta. He, he!Lalu, beberapa di antara Anda mungkin berpetualang mencari cinta. Muter-muter sana-sini tak tentu arah. Loncat sana loncat sini, bak kutu loncat. Berpindah dari satu pasangan ke pasangan lain. Hanya demi satu alasan: mencari cinta sejati. (Walaupun banyak orang yang begitu hanya demi kesenangan alias just for having fun.)


Namun, perlu Anda ketahui bahwa cuma ada satu indikator penting untuk menandai cinta sejati, yaitu:

Ke mana pun Anda pergi, dia akan selalu menghantui Anda.

Penjelasannya:
Anda akan senantiasa ingat dan merindukannya meski Anda terpisahkan oleh jarak yang jauh darinya. Dan, hal itu bisa berlangsung dalam tempo yang cukup lama. Setahun, dua tahun, lima tahun, atau bahkan sepuluh tahun - bisa saja seumur hidup.

Orang lain yang Anda jumpai tak dapat menggantikannya di hati Anda. Mereka datang dan pergi begitu saja. Setiap Anda berupaya untuk menjalin cinta demi melupakannya, Anda selalu tersandung. Selalu saja tidak pas rasanya. Anda akan senantiasa gonta-ganti pasangan, ibarat orang yang sedang beli sepatu. Hanya dengan satu tujuan: agar Anda dapat menemukan yang ideal buat Anda - sebagai pengganti dirinya.

Namun, kenyataannya Anda tetap merana, karena tak ada yang Anda rasa benar-benar pas. Semuanya Anda rasa selalu ada kurangnya. Anda pun kembali dan terus larut dalam angan-angan terhadap si dia.

Itulah cinta sejati Anda.

Akan tetapi, masalah akan timbul jika Anda tak dapat meraihnya. Sakit... deh!
Itu membuat Anda limbung. Cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan - terlebih bila Anda tahu bahwa si dia adalah cinta sejati Anda.

Tapi, tak ada pilihan lain buat Anda. Anda harus melupakannya - bukan berarti meninggalkannya. Anda harus menghapus segala harapan Anda terhadapnya, karena mencoba melupakannya seringkali justru akan membuat memori Anda terhadapnya semakin kuat tertanam.

Ya! Anda harus berhenti mengharapkannya!!!


Jika benar-benar mencintainya, Anda tentu tak ingin menyakitinya. Lebih baik dia bahagia. Jangan ganggu dia dengan harapan-harapan Anda! Terus mengejarnya bisa membuat dia membenci Anda.

Anda tak mau dibenci oleh cinta sejati Anda, kan?


Jadilah orang yang sabar dan banyak bersyukur, dengan keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan lagi cinta sejati kepada Anda - suatu hari nanti!

Karena Tuhan adalah cinta sejati Anda. Dia tidak akan pernah menolak cinta Anda bila Anda benar-benar tulus mencintai-Nya.




PS: Seringkali sesuatu amat sulit untuk dilakukan. Namun, jika itu harus maka lakukanlah!